LAPORAN
AKHIR KEGIATAN
KULIAH
KERJA NYATA (KKN) XXIV
DESA
TLEKUNG KECAMATAN JUNREJO KABUPATEN BATU
DISUSUN
OLEH:
KELOMPOK
I
UNIVERSITAS
TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG
2015
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN AKHIR KEGIATAN
KULIAH KERJA NYATA (KKN) XXIV
DESA TLEKUNG KECAMATAN JUNREJO KABUPATEN BATU
KELOMPOK I
|
Sekretaris
Lola June A. Sinaga
|
|
Ketua
Syaiful Mulkan
|
|
Dosen Pembimbing
Lapangan
E.
Junatan Muakhor, SP., Msi.
NIDN. 0726078803
|
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat, taufik dan hidayah-Nya,
penyusunan Laporan Akhir Kuliah Kerja Nyata (KKN) XXIV ini dapat diselesaikan
dengan baik. Penulis menyadari bahwa dalam proses pelaksanaan Kuliah Kerja
Nyata (KKN) XXIV di Desa Junrejo ini banyak mengalami kendala, namun berkat
bantuan, bimbingan, kerjasama dari berbagai pihak dan berkah dari Tuhan Yang
Maha Esa sehingga kendala-kendala yang dihadapi tersebut dapat diatasi. Untuk
itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada E.
Junatan Muakhor, SP., Msi. selaku Dosen Pembimbing Lapangan yang telah dengan
sabar, tekun, tulus dan ikhlas dalam meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran serta
memberikan bimbingan, motivasi, arahan, dan saran-saran yang sangat berharga
kepada kami selama menyusun tugas akhir.
Selanjutnya ucapan
terima kasih kami sampaikan pula kepada:
1. Prof.
Dr. Ir. Wani Hadi Utomo, M. P. selaku Rektor Universitas Tribhuwana Tunggadewi
Malang.
2. Kepala
Desa Junrejo dan Kepala Dusun Krajan Kidul.
3. Ketua
Panitia Kuliah Kerja Nyata (KKN) XXIV.
4. Bapak
Kartomo dan Ibu Tri, selaku Ketua Poktan di Dusun Krajan Kidul bersama warga
masyarakat Dusun Krajan Kidul.
5. Seluruh
pihak yang telah membantu demi tersukseskannya Kuliah Kerja Nyata (KKN) XXIV.
Akhirnya, dengan segala
kerendahan hati kami menyadari dalam keseluruhan kegiatan hingga
penulisan laporan ini masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan, sehingga
penulis mengharapkan adanya saran dan kritik yang bersifat membangun demi
perbaikan selanjutnya.
Malang, 05 Agustus 2015
Kelompok
I
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Keadaan Geografis Desa
Desa Tlekung merupakan bagian
dari wilayah Kecamatan Junrejo yang berada pada ketinggian
850 meter diatas permukaan laut dengan suhu rata-rata 27°C dan terletak pada koordinat 122°-17’ 122°-57’
BT, 7°-44’8°26’ LS. Desa Tlekung terletak ± 6,8 km dari Kabupaten
Batu, dengan luas daerahnya mencapai 765 ha. Secara geografis Desa Tlekung berbatasan
dengan Desa Oro-oro Ombo di sebelah utara, Desa Gading Kulon disebelah selatan,
disebelah barat berbatasan dengan Perhutani, dan di sebelah timur berbatasan
dengan Junrejo.
Desa
Tlekung memiliki luas 765 ha terdiri dari dataran (88 ha) dan perbukitan (149
ha) dengan rincian tata guna lahan sebagai berikut: sawah (115 ha), pekarangan
(12,95 ha), ladang (184,23 ha), perkebunan (52 ha), hutan (144 ha), perikanan
(0,3 ha). Tingkat kesuburan tanah di Desa Tlekung cukup tinggi, lahan dengan
kategori sangat subur seluas 144 ha dan lahan dengan kategori subur seluas
298,19 ha. Jenis tanah di Desa Tlekung adalah jenis tanah andosol dengan luasan
lahan 218 ha.
1.2 Keadaan
Demografi Desa
1.2.1 Jumlah Penduduk
Adapun data jumlah
penduduk berdasarkan jenis kelamin pada akhir 2014 adalah sebagai berikut:
-
Penduduk pria : 2.373 jiwa
-
Penduduk wanita : 3.082 jiwa
-
Kepala keluarga : 1.823 jiwa
Data
jumlah penduduk berdasarkan usia kerja adalah sebagai berikut:
-
Anak-anak (1-12) : 1.886 jiwa
-
Remaja (13-22) : 1.083 jiwa
-
Dewasa :
2.071 jiwa
-
Manula :
415 jiwa
1.2.2 Mata Pencaharian
Menurut mata pencaharian hidup adalah sebagai
berikut:
-
Petani : 663 jiwa
-
Pedagang : 99 jiwa
-
Pegawai Negeri Sipil : 46 jiwa
-
Swasta : 382 jiwa
-
Pelajar : 1.523 jiwa
-
Belum bekerja : 1.972 jiwa
-
Lain-lain :
1.073 jiwa
1.2.3 Sarana dan Prasarana Infrastruktur Desa
1.2.3.1 Pertanian
a.
Prasarana
Irigasi
-
Saluran primer : 4 buah
-
Saluran sekunder : 5 buah
-
Saluran tersier : 7 buah
-
Box bagi :
14 buah
-
Gorong-gorong : 5 buah
-
Sumur resapan : 4 buah
-
Irigasi sprinkler : 3 buah
-
Jalan usaha tani : 1 buah
b.
Prasarana
Alsintan
-
Hand traktor roda 2 : 5 buah
-
Hand sprayer : 79 buah
-
Power sprayer : 2 buah
-
Choper :
4 buah
c.
Sarana
Peralatan Pertanian
-
Cangkul :
1.758
-
Sabit :
2.445
-
Gunting pangkas : 20
-
Kultivator : 20
-
Light trap : 2
-
Lempak :
51
-
Garpu :
35
-
Vacum seller : 1
-
Bajak :
4
-
Garpu :
4
d.
Peternakan
-
Pos penampungan susu : 3
-
Kandang :
469
-
Milk Can :
834
-
Ember perah stainless : 87
-
Karpet sapi : 172
-
Mesin pencacah rumput : 3
1.3
Sosial
Ekonomi Desa
Pada umumnya sebagian besar penduduk
Desa Tlekung dapat di kategorikan kedalam dua kelompok besar yakni kelompok
pekerja petani/peternak dan pekerja bangunan, serta sebagian kecil bekerja
sebagai pegawai dan pengusaha. Kehidupan di Desa Tlekung dapat dilihat aktif
pada pagi hari dan malam hari, hal ini dikarenakan pada siang hari sebagian
besar penduduk Desa Tlekung berada di lahan pertanian ataupun di kantor.
Dari data yang diperoleh,
pertanian di Desa Tlekung lebih mengarah ke pertanian lahan kering yakni
ladang/tegalan, hal ini dapat dilihat dari luas ladang yang lebih besar
dibandingkan peruntukan lahan yang lain yakni sebesar 184, 23 ha. Komoditas yang
dikembangkan antara lain jenis tanaman pangan seperti jagung, singkong, jenis kacang-kacangan,
kemudian sayur-sayuran hingga cabai dan juga tomat serta cengkeh. Disamping
jenis lahan kering petani di Desa Tlekung menempatkan padi pada urutan kedua
komoditas unggulan yang diharapkan dengan total luasan lahan mencapai 115 ha.
Tingkat perkembangan
teknologi pertanian dapat kita melihat melalui aplikasi-aplikasi teknologi
pertanian yang dilakukan oleh petani di lapangan. Pola tanam jajar legowo pada
pertanaman padi di sawah, tumpang sari pada pertanian lahan kering, dan
vertikultur pada pekarangan rumah merupakan salah satu aplikasi teknologi
modern berbasis pertanian yang telah dikenal dan diaplikasikan di lapangan oleh
penduduk Desa Tlekung.
Selain jenis pengembangan di
sektor pertanian lahan kering dan komoditas tanaman pangan, petani di Desa
Tlekung juga telah mengenal sistem pertanian agroforestri, yakni sebuah sistem
dimana adanya kombinasi antar unsur kehutanan yakni pepohonan dengan unsur
pertanian/perkebunan seperti sayuran atau buah-buahan. Sistem ini dianggap
paling efektif untuk mengoptimalkan hasil lahan dan juga dipandang mampu untuk
mempertahankan kestabilan ekosistem. Salah satu contoh pola agrofrestri yang
diterapkan penduduk Desa Tlekung adalah agroforestri kopi multistrata. Pola
agroforestri ini menempatkan kopi sebagai tanaman utama, akan tetapi untuk
mencapai pertumbuhan kopi yang optimal di butuhkan tanaman penaung yang
biasanya dari jenis pepohonan misalnya sengon. Total jumlah pohon kopi yang
berproduksi di Desa Tlekung sebanyak 1500 pohon. Disamping perkebunan kopi di
Desa Tlekung juga terdapat komoditas tebu seluas 16 ha dan cengkeh seluas 2
ha.
Selain sektor
pertanian, sektor peternakan juga menjadi ujung tombak penduduk Desa Tlekung.
Kurang lebih 843 ekor sapi perah berproduksi di Desa Tlekung. Kegiatan memerah
susu oleh peternak dilaksanakan dua kali dalam sehari, yakni pada pukul empat
pagi dan tiga sore, hasil susu perahan kemudian diantarkan ke pos-pos
penampungan susu untuk kemudian di angkut ke KUD. Selain sapi perah jenis
ternak lain yang dikembangkan di Desa Tlekung antara lain sapi potong (56
ekor), babi (73 ekor), kuda (2 ekor), kambing (261 ekor), domba (175 ekor),
ayam buras (1.060 ekor), ayam ras petelor (9.500 ekor), ayam ras pedaging (13.000
ekor), kelinci (88 ekor), itik (15.176 ekor).
1.4
Keadaan
Sosial Budaya Desa
Penduduk desa diidentikkan
dengan tingkat kepekaan sosialnya yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari
keseharian penduduk yang menjunjung tinggi sistem nilai dan norma yang ada di
dalam masyarakat. Pada umumnya di dalam masyarakat tingkat pedesaan terdapat
berbagai macam sistem nilai dan norma yang mengatur ritme kehidupan masyarakat.
Nilai dan norma tersebut tidak selalu tertulis, akan tetapi masyarakat desa
percaya bahwa mematuhi aturan sistem nilai dan norma merupakan satu-satunya
jalan untuk mencapai kehidupan masyarakat yang baik.
Sebagai contoh budaya 3S
(salam, senyum, dan sapa) merupakan bagian dari ritual keseharian yang umum
dilakukan oleh penduduk desa untuk saling menghormati serta menjaga
silaturrahmi. Budaya tersebut merupakan bagian dari norma susila yang tidak
tertulis, akan tetapi masyarakat dengan sadar membudayakannya demi mencapai
keharmonisan bersama.
Berbagai macam norma yang ada
di dalam masyarakat seperti norma hukum, agama, sosial, adat, dan lain
sebagainya dapat berjalan beriringan di dalam kehidupan bermasyarakat penduduk
desa. Hal yang lumrah kita jumpai sebagai simbol kebersamaan dan tingginya
apesiasi masyarakat desa terhadap norma sosial, agama, adat, dan susila adalah
budaya gotong royong. Proses pendirian rumah, kerja bakti, sedekah bumi, hingga
adanya pertemuan-pertemuan rutin dari kelompok tani maupun kelompok religius
merupakan simbol dari tingginya apresiasi masyarakat desa terhadap sistem nilai
dan norma.
Senada dengan konsekuensi
pelanggaran norma hukum yang mendapatkan sanksi perdana maupun pidata,
norma-norma di dalam masyarakat juga memiliki konsekuensi tersendiri terhadap
pelanggarnya. Sering kali kita mendengar tentang istilah ‘teguran, cemoohan,
hingga pengucilan’ merupakan salah satu bentuk konsekuensi dari pelanggaran terhadap
norma-norma di dalam kehidupan bermasyarakat. Sanksi sosial tersebut menjadi
kunci utama untuk mengatur kehidupan masyarakat yang baik.
1.5
Keadaan
Keagamaan
Mayoritas penduduk Desa Tlekung
beragama islam, sedangkan sebagian kecil yang lain ada yang beragam Kristen,
Hindu, Budha, hingga aliran kepercayaan. Dalam kehidupan sehari-hari para pemeluk
agama tersebut hidup dengan rukun dan damai. Hal ini dibuktikan dengan selalu
berbaurnya mereka dalam setiap kegiatan gotong royong untuk kepentingan umum.
Aktifitas keagamaan di Desa Tlekung
dapat dilihat dengan banyaknya kegiatan keagamaan di kehidupan keseharian
masyarakat. Kegiatan keagamaan seperti sholat berjamaah, pengajian, yasin dan
tahlil, hingga pengajian umum dilakukan oleh masyarakat muslim, sedangkan
masyarakat kristiani melaksanakan kebaktian pada hari-hari tertentu di gereja
setempat, dan begitu pula masyarakat yang menganut kepercayaan lainnya.
Disamping kegiatan keagamaan rutin, kelompok religius biasanya juga mengadakan
kegiatan sosial seperti kegiatan bakti sosial yang diisi dengan pemeriksaan
kesehatan gratis, khitanan massal, donor darah dan lain sebagainya.
1.6
Lembaga
Pemerintahan dan Lembaga Desa
a.
Lembaga
Pemerintahan Desa
Lembaga pemerintahan desa
adalah suatu lembaga yang terdiri dari pemerintah desa. Pemerintah desa terdiri
dari Kepala Desa dan perangkat desa lainnya seperti Sekretaris Desa, Bendahara Desa,
dan Kaur Desa. Di Desa Tlekung perangkat desa terdiri dari lima Kepala Urusan
(KAUR) yaitu Kaur Kesejahteraan Masyarakat
(Kesra), Kaur Keuangan, Kaur Ekonomi Pembangunan, Kaur Umum, dan Kaur
Pemerintahan.
b. Lembaga Desa
Lembaga desa adalah lembaga
yang memiliki tujuan memajukan desa sesuai dengan jenis lembaga yang
bersangkutan. Lembga desa terdiri dari dua yaitu lembaga formal dan lembaga
informal. Lembaga formal adalah lembaga yang memiliki dasar hukum (SK.AD/ART)
sedangkan lembaga informal adalah lembaga dimasyarakat yang memilliki tujuan,
tetapi belum atau tidak memiliki dasar hukum.
Desa Tlekung memiliki lembaga
formal maupun informal. Lembaga formal diantaranya BPD, LKMD, dan PKK.
Sedangkan untuk lembaga informal terdiri dari beberapa kelompok pengajian (NU,
Muslimat Fatayat), Gabungan Kelompok Tani “Sumber Makmur” dan “Sumber Rezeki”, dan
Kelompok Arisan Ibu-Ibu.
BAB II
IDENTIFIKASI SUMBER DAYA
2.1
Alam, Sarana, dan Program fisik
a. Potensi
Alam
Desa
Tlekung adalah wilayah perbukitan yang identik dengan pertanian lahan subur.
Sebagian besar komoditas pertanian yang diusahakan saat ini adalah tanaman
pangan, sayuran, dan buah-buahan. Disamping sektor pertanian, sektor peternakan
juga merupakan salah satu aspek yang potensial di Desa Tlekung. Hewan ternak
yang banyak dipelihara seperti sapi dan kambing juga banyak dikembangkan.
Hampir setiap Kepala Keluarga memiliki ternak sapi. Ini dikarenakan alam desa
yang kaya akan hijauan serta limbah pertanian yang dapat dijadikan pakan
ternak. Potensi alam yang tidak kalah pentingnya adalah hutan. Desa Tlekung memiliki
sejumlah kawasan hutan dengan luas 144,60 ha baik yang masih alami ataupun
terganggu.
Hutan alami ini merupakan
jenis hutan yang belum terjamah oleh tangan manusia, sehingga ekosistem yang
ada di dalamnya masih terjaga. Hutan terganggu adalah jenis hutan yang sebagian
kecilnya telah berubah fungsi menjadi lahan pertanian atau lahan lainnya. Hutan
alami yang ada di Desa Tlekung merupakan daerah konservasi flora, fauna, serta
mata air. Beberapa titik mata air berada di dalam hutan, dimana mata air
tersebut bergantung pada kelestarian hutan. Dari data yang diperoleh ada 8
titik sumber mata air di wilayah Desa Tlekung.
Mata air yang berada di Desa
Tlekung dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan pasokan air di seluruh Desa
Tlekung dan sekitarnya. Sumber mata air tersebut sebagia besar berada di
wilayah perbukitan yang di kelilingi hutan. Kurang lebih ada delapan mata air
yang masuk dalam kawasan konservasi Desa Tlekung yakni parang gedhek (8-10
liter/detik), pandan (5-7 liter/detik), urip (6-8 liter/detik), ipik, kali ampo
(4 liter/detik), kiban, jiah, kembang (6-8 liter/detik).
Beberapa kegiatan yang dapat
direkam sebagai langkah konservasi hutan serta mata air dari warga setempat
adalah gencarnya kegiatan reboisasi di kawasan hutan dan perbukitan. Kegiatan
reboisasi ini ditujukan untuk menjaga kelestarian hutan yang pada akhirnya juga
turut menjaga kelestarian mata air yang ada di kawasan tersebut.
b.
Sarana
-
Fasilitas air bersih
Ketersediaan air di Desa Tlekung
dirasa telah cukup dan memenuhi kebutuhan masyarakat Desa Tlekung dan
sekitarnya. Sumber mata air yang berada di dalam hutan di alirkan melalui
pipa-pipa yang dipasang hingga ke bak-bak penampungan untuk di alirkan ke
rumah-rumah penduduk. Masyarakat desa menggunakan air bersih untuk keperluan
air minum, MCK, serta untuk keperluan minum ternak dan irigasi pertanian.
Proses pemeliharaan sarana
dan prasarana air bersih seperti pipa-pipa yang mengalirkan sumber air bersih
dilakukan secara kolektif. Penduduk desa yang mendapat pasokan air bersih dari
sumber mata air ditarik iuran seperlunya, yang kemudian dana tersebut digunakan
untuk operasional pemeliharaan. Secara berkala pengecekan sarana dan prasarana
penunjang distribusi air bersih dikontrol oleh masyarakat desa khususnya dari
kelompok pemuda desa.
Disamping keberadaan
pipa-pipa penyalur air bersih ke rumah warga, terdapat pula jenis pemandian
terpadu baik secara tradisional (belik, dalam bahasa jawa) maupun modern (MCK
terpadu). Hal ini memudahkan penduduk yang tidak memiliki kamar mandi pribadi.
-
Kondisi
jalan
Jalan merupakan salah satu
sarana yang sangat penting dalam mendukung sagala aktivitas kehidupan masyarakat
sehari-hari. Keberadaan jalan yang baik dapat merangsang pertumbuhan ekonomi suatu
daerah menjadi lebih cepat.
Jalan utama di Desa Tlekung
dapat di kategorikan dalam kondisi baik dan layak, hal ini dikarenakan jalan
utama tersebut dapat menjadi jalan alternatif menuju Kota Batu. Akan tetapi
jalan-jalan yang menuju kampung-kampung tergolong kurang baik serta
membahayakan karena banyaknya terdapat lubang disana-sini dan minimnya rambu
serta penerangan di malam hari.
-
Sekretariat kelompok tani
Keberadaan sekretariat suatu
lembaga sangat dibutuhkan untuk mempermudah koordinasi maupun pelaksanaan
kegiatan. Begitu juga pada kelompok tani, sekretariat kelompok tani biasanya
digunakan untuk kegiatan penyuluhan, tempat penyimpanan barang-barang pertanian
(pupuk, benih, pestisida dll) disamping itu sekretariat bisa digunakan sabagai
tempat rapat anggota tani.
Di Desa Tlekung, sekretariat
kelompok tani bertempat di rumah ketua kelompok tani tersebut. Kegiatan
pertemuan rutin yang di adakan setiap dua minggu sekali diadakan secara
bergantian di rumah anggota kelompok tani, hal ini dimaksudkan untuk menekan
rasa bosan serta mempererat tali silaturrahmi antar anggota kelompok tani.
-
Pos
penampungan susu
Tingginya jumlah penduduk yang memiliki sapi
perah, diperlukannya suatu tempat yang dapat di jangkau dengan mudah oleh para
pemerah susu untuk menyerahkan hasil perahannya, maka dari itu didirikanlah pos
penampungan susu yang biasanya didirikan per dusun. Pos penampungan ini
beroperasi pada jam-jam tertentu untuk melayani penyetoran susu hasil perahan.
Susu ini nantinya akan di bawa langsung ke KUD untuk dijual.
BAB III
REALISASI PROGRAM DAN PELAKSANAAN
PENGEMBANGAN MASYARAKAT
1.1
Program
Kerja
Dalam
rangka mensukseskan Kuliah Kerja Nyata, dibutuhkan kegiatan-kegiatan yang
memiliki nilai progresif untuk pembangunan masyarakat baik secara fisik maupun
moril. Maka dari itu untuk memperlancar dalam pelaksanaan kegiatan
diperlukannya susunan program kerja yang dapat dijadikan acuan oleh kelompok
selama kegiatan KKN berlangsung.
Bervariasinya kemampuan anggota kelompok menjadi modal
awal dalam memformulasikan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan bersama
masyarakat. Perbedaan asal program studi memberikan keuntungan dalam merumuskan
rencana kegiatan yang sebagian besar materi program tersebut telah di fahami,
dimana sebelum kegiatan disepakati terlebih dahulu diadakan audiensi bersama,
hal ini dimaksudkan agar kegiatan yang dilaksanakan nantinya berjalan sesuai
dengan harapan. Sesudah rencana program kerja disepakati oleh kelompok, program
kerja kembali didiskusikan bersama Dosen Pendamping Lapangan dan pejabat
tingkat desa/dusun.
3.1 Program
Umum
|
No.
|
Jenis Program Kerja
|
Format Kegiatan
|
Tujuan
|
Sasaran
|
Waktu
|
|
1.
|
Kebersihan dan tata ruang
desa
|
-
Kerja bakti pemasangan pipa saluran air
-
Kerja Bakti penanggulangan Demam Berdarah
-
Kerja bakti mingguan
-
Kerja bakti di kebun Poktan
|
Menciptakan kebersihan dan keindahan, serta menjaga
kesehatan
|
Lingkungan desa dan tempat-tempat umum
|
Minggu ke-1 September
|
|
2.
|
Kerohanian
|
Mengikuti kegiatan kerohanian bersama warga
|
Berpartisipasi dalam kegiatan remaja masjid
dan kegiatan di gereja
|
Tempat-tempat ibadah di desa Tlekung
|
Insidental
|
|
3.
|
Reboisasi
|
Penanaman di beberapa kawasan lereng bukit
dan sumber mata air
|
Konservasi hutan dan mata air
|
Lereng bukit dan daerah sumber mata air
|
Minggu ke-2, ke-3, dan ke-4
|
3.2
Program Khusus
|
No
|
Jenis Program Kerja
|
Format Kegiatan
|
Tujuan
|
Sasaran
|
Waktu
|
|
1.
|
Pembuatan Pupuk Organik Cair
|
Penyuluhan dan simulasi
pembuatan bersama anggota kelompok tani
|
-
Memanfaatkan sisa limbah dapur untuk di
jadikan produk yang bermanfaat
-
Menambah wacana dan keterampilan petani
|
Kelompok Tani Sumber Makmur
|
Minggu ke 1 Februari
|
|
2.
|
Pelatihan pembuatan sabun
cair
|
Penyuluhan dan simulasi
pembuatan sabun pencuci piring dan pelembut pakaian
|
Memberi keterampilan khusus
dan pengetahuan baru pada ibu-ibu rumah tangga
|
Anggota kelompok tani
Sumber Rezeki dan warga sekitar
|
Minggu ke 3 Februari
|
|
3.
|
Pelatihan dan Budidaya Cacing Tanah
|
Penyuluhan dan kajian
lapangan anggota kelompok tani sumber makmur
|
Menambah wawasan dan keterampilan petani
tentang potensi usaha dan pemnafaatan limbah dapur dan ternak
|
Kelompok Tani Sumber Makmur
|
Minggu ke 3 Februari
|
|
4.
|
Pembuatan sari lidah buaya
|
Praktek membuat sari lidah
buaya serta olahan lain bersama Bu tri (Ketua Poktan wanita Sumber Rezeki)
|
Menambah wawasan dan keterampilan mahasiswa
melalui diskusi dan praktek bersama kelompok tani
|
Mahasiswa KKN dari kelompok
I
|
Minggu ke 2 Februari
|
|
5.
|
Senam sehat bersama
|
Senam bersama dengan
ibu-ibu warga desa
|
Merekatkan tali silaturrahmi serta menjaga
kesehatan peserta KKN dan ibu-ibu warga setempat.
|
Mahasiswa KKN kelompok I
dan Ibu-ibu warga stempat
|
Minggku ke 2 Februari
|
3.2
Langkah-langkah Pelaksanaan Program Kerja
|
No
|
Jenis
Program Kerja
|
Tahap
Pelaksanaan
|
|
1.
|
Pembuatan Pupuk Organik Cair
|
-
Penyusunan dan finishing rencana kegiatan oleh kelompok
-
Konfirmasi ke Kepala Desa
-
Konfirmasi ke Kepala dusun berdasarkan
rekomendasi Kepala Desa
-
Kepala Dusun konfirmasi jadwal pelaksaaan ke
warga
-
Persiapan dan pelaksanaan kegiatan (bahan dan
alat)
-
Evaluasi
|
|
2.
|
Pelatihan pembuatan sabun
cair
|
-
Penyusunan dan finishing rencana kegiatan oleh kelompok
-
Konfirmasi ke Kepala Desa
-
Konfirmasi ke Kepala Dusun berdasarkan
rekomendasi Kepala Desa
-
Persiapan dan pelaksanaan kegiatan (pemateri,
bahan dan alat)
-
Evaluasi
|
|
3.
|
Pelatihan dan Budidaya Cacing Tanah
|
-
Penyusunan dan finishing rencana kegiatan oleh kelompok
-
Konfirmasi ke Kepala Desa
-
Konfirmasi ke Kepala dusun berdasarkan
rekomendasi Kepala Desa
-
Persiapan dan pelaksanaan (pemateri, bahan
dan alat)
-
Evaluasi
|
|
4.
|
Pembuatan sari lidah buaya
|
-
Penyusunan dan finishing rencana kegiatan oleh kelompok
-
Konfirmasi ke Kepala Desa
-
Konfirmasi ke Kepala Dusun berdasarkan
rekomendasi Kepala Desa
-
Kepala Dusun konfirmasi jadwal pelaksaaan ke Ketua
Poktan Wanita
-
Persiapan dan pelaksanaan kegiatan
-
Evaluasi oleh Ketua Poktan “Sumber Rezeki”
|
|
5.
|
Senam sehat bersama
|
-
Penyusunan dan finishing rencana kegiatan oleh kelompok
-
Konfirmasi ke kepala desa
-
Konfirmasi ke Kepala dusun berdasarkan
rekomendasi Kepala Desa
-
Kepala Dusun konfirmasi jadwal pelaksaaan ke
warga
-
Pelaksanaan (instruktur dan peralatan)
-
Evaluasi
|
3.3
Realisasi Program Kerja
3.3.1
Program Umum
|
No.
|
Jenis Program Kerja
|
Format Kegiatan
|
Hasil
|
Waktu
|
Kendala
|
|
1.
|
Kebersihan dan tata ruang
desa
|
-
Kerja bakti pemasangan pipa saluran air
-
Kerja Bakti penanggulangan Demam Berdarah
-
Kerja bakti mingguan
-
Kerja bakti di kebun Poktan
|
-
Terjalinnya silaturrahmi antara mahasiswa KKN
dengan warga setempat
-
Terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat
|
-
04 Februari
-
09 Februari
-
17 Februari
-
25 Februari
-
28 Februari
|
-
Keberadaan lokasi kegiatan yang jauh dari
tempat menginap mahasiswa KKN
-
Minimnya transportasi tambahan
|
|
2.
|
Kerohanian
|
Mengikuti kegiatan kerohanian bersama warga
|
-
Mahasiswa dapat mengikuti kegiatan kerohanian
masyarakat
|
Insidental
|
Tidak Ada
|
|
3.
|
Reboisasi
|
Konservasi hutan dan sumber mata air
|
-
Penanaman di tiga titik di kawasan lereng dan
sumber mata air
|
Minggu ke-2, Minggu ke-3, Minggu ke-4
|
Kurangnya koordinasi antara panitia
penyelenggara KKN, mahasiswa, aparatur desa, dan warga membuat kegiatan tidak
teratur
|
3.3.2
Program khusus
|
No.
|
Jenis Program Kerja
|
Format Kegiatan
|
Hasil
|
Waktu
|
Kendala
|
|
1.
|
Pembuatan Pupuk Organik Cair
|
Diskusi dan pemeragaan proses pembuatan pupuk
organik cair
|
Tingginya antusiasme warga desa melalui
pertaanyaan-pertanyaan yang diajukan serta praktek secara langsung
|
-
06 Februari
|
Tidak adanya alat bantu seperti LCD untuk
mendukung pada saat sosialisasi
|
|
2.
|
Pelatihan pembuatan sabun
cair
|
Diskusi dan pemeragaan proses pembuatan sabun
cair, pembagian hasil secara gratis
|
Masyarakat dapat memahami, membuat, serta
mengkonsumsi sabun cair buatannya sendiri.
|
- 20
februari
|
-
Distribusi bahan yang telat
-
Berkurangnya volume bahan akibat tumbah pad
saat pendistribusian membuat tidak maksimal.
|
|
3.
|
Pelatihan dan Budidaya Cacing Tanah
|
Penyuluhan dan kajian
lapangan anggota kelompok tani sumber makmur
|
Masyarakat mulai tertarik untuk mencoba
berbudidaya cacing tanah, bertambahnya wawasan tentang pemnafaatan limbah
kotoran sapi yang tidak hany dapat dipakai untuk pupuk dan biogas, tetapi
juga untuk cacing tanah.
|
24 Februari
|
-
Pelaksanaan di siang hari menjadikan sebagian
warga khususnya laki-laki tidak dapat mengikuti kegiatan, karena bekerja.
|
|
4.
|
Pembuatan sari lidah buaya
|
Praktek membuat sari lidah
buaya serta olahan lain bersama Bu tri (Ketua Poktan wanita Sumber Rezeki)
|
Mahasiswa KKN mendapatkan wawasan dan
ketrampilan baru tentang pengolahan produk pertanian
|
12 Februari
|
Tidak Ada
|
|
5.
|
Senam sehat bersama
|
Senam bersama dengan
ibu-ibu warga desa
|
Terjalinnya silaturrahmi mahasiswa KKN dengan
warga sekitar serta adanya upaya riil untuk menjaga kesehatan
|
14 Februari
|
Ruangan yang dipakai saat itu tidak terlalu
besar sehingga, peserta yang dapat mengikuti kegiatan juga terbatas.
|
3.4
Program Kerja yang tidak terealisasi
|
No
|
Jenis
Program Kerja
|
Kendala
|
|
1.
|
Bazar Produk Pertanian
|
-
Waktu persiapan yang tidak mencukupi
-
Dana kelompok yang terbatas
-
Tidak adanya keberlangsungan dalam produksi
pengolahan hasil pertanian oleh gapoktan dan warga setempat.
|
|
2.
|
Pekan Anak Indonesia
|
-
Tidak di ACC-nya proposal pengajuan oleh
sekolah yang dituju
|
|
|
|
|
3.4
Problematika
yang dihadapi atas keseluruhan perencanaan program
Berbagai kendala utama yang dihadapi di
lapangan antara lain sebagai berikut:
a. Penempatan
kelompok yang terpusat pada rumah Kepala Desa, mempersulit kinerja kelompok
karena jauh dari wilayah yang menjadi tanggung jawabnya; tidak terjalinnya
kedekatan terhadap masyarakat karena mahasiswa datang hanya saat ada kegiatan.
b. Adanya
miskomunikasi antara aparatur desa dengan warga desa terkait keberadaan mahasiswa
KKN, yang menyebabkan pro-kontra dalam pelaksanaan kegiatan KKN.
c. Terlambatnya
pemetaan lokasi (potensi dan permasalahan desa), termasuk upaya pendekatan
kepada warga menyebabkan terbatasnya gerak mahasiswa dalam melaksanakan program
kerja.
d. Adanya
kesan ketidak harmonisan hubungan antar aparatur desa dengan warga atau
sesamanya, menempatkan keberadaan kegiatan KKN dalam posisi yang sulit.
e. Ketidak
solidan panitia penyelenggara KKN (hal ini dapat dilihat dari persiapan
pemberangkatan hingga pelepasan yang terkesan tidak matang dan terencana, tidak
adanya acara serah terima dengan warga, serta kegiatan reboisasi yang tidak
terorganisir) berdampak pada kinerja dan perspektif negatif mahasiswa KKN.
BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Dari
uraian dan realisasi program kerja diatas dapat disimpulkan bahwa program kerja yang telah dilakukan telah
sesuai dan tepat bagi masyarakat setempat. Hal tersebut diperkuat dengan adanya
kunjungan-kunjungan hingga wawancara kepada Kepala Desa, Kepala Dusun, sesepuh,
ketua kelompok tani, hingga warga tentang garis besar kegiatan yang cocok dan
sesuai dengan kebutuhan warga setempat.
Keberhasilan
dari suatu program kerja tidak lepas dari unsur persiapan, sumberdaya,
partisipasi pelaksana dan sasaran, dan juga kendala-kendala yang dihadapi di
lapangan. Sejauh yang diketahui dan diamati melalui pengamatan langsung dan
komentar masyarakat, program kerja yang telah dilaksanakan dapat dilaporkan
telah mencapai tingkat keberhasilan tidak kurang dari 85%. Angka tersebut dapat
diukur melalui antusiasme warga dalam mengikuti kegiatan, jumlah peserta,
hingga keberlanjutannya di lapangan. Adanya kekurangan hingga tidak
terealisasinya suatu program kerja nantinya diharapkan dapat menjadi sarana
untuk kritik dan saran demi perbaikan kedepannya.
Kesuksesan
program kerja secara keseluruhan tidak terlepas dari kerjasama dan partisipasi antara
pihak pelaksana KKN, aparatur desa, dan juga masyarakat.
BAB V
REKOMENDASI
5.1 Rekomendasi
5.1.2
Kampus
-
Untuk mempermudah koordinasi kelompok dengan
masyarakat, diharapkan penempatan kelompom KKN sesuai pada lokasi yang menjadi
tanggung jawab kelompok tersebut, hal ini dimaksudkan agar peserta KKN dapat
melakukan pendekatan dan mempererat silaturrahmi demi kelancaran jalannya
kegiatan.
-
Penempatan seluruh kelompok yang terpusat pada
satu titik menyulitkan kelompok untuk mobilisasi secara bebas ke lokasi yang
bersangkutan sehingga menghambat kinerja kelompok.
-
Penempatan seluruh kelompok yang terpusat pada
satu titik memungkinkan terjadinya ‘kecemburuan sosial’ antar kelompok akibat
ketidak merataan sumber daya kelompok, ketidak teraturan system, serta level
kegiatan.
-
Terlalu dekatnya lokasi KKN dengan kampus asal
memberikan kesempatan peserta untuk pulang dan pergi tanpa ada kontrol dan tegas,
sehingga hal ini menjadi contoh yang tidak baik bagi peserta yang lain serta
pandangan masyarakat secara umum.
-
Tidak adanya upacara penerimaan di lokasi KKN serta
upacara penutupan yang terkesan tidak mengundang masyarakat menempatkan peserta
dan program KKN pada posisi yang sulit.
-
Adanya kejelasan tata
cara penilaian program kompetisi, sebaiknya dilakukan presentasi proposal dari
setiap kelompok yang mengajukan untuk memperjelas maksud dan tujuan dari
program yang diajukan
-
Untuk wilayah desa
yang luas perlu penambahan kelompok sehingga dalam pelaksanaan program
kerja dapat dilakukan dengan efektif dan
efisien
5.1.3
Kelompok KKN
-
Perlunya peningkatan
koordinasi dengan Kepala desa dan perangkatnya, masyarakat setempat serta
anggota kelompok untuk meminimalisir terjadinya miskomunikasi.
-
Program kerja yang
direncanakan harus sesuai kebutuhan masyarakat hal ini dapat dilaksanakan
melalui mekanisme pemetaan potensi dan permasalahan desa jauh-jauh waktu
sebelum KKN di laksanakan, hal tersebut juga termasuk adanya kegiatan audiensi
bersama antara pihak penyelenggara KKN, aparatur desa, warga, dan mahasiswa
KKN.
Komentar
Posting Komentar