BUDIDAYA SAWI DAGING (Brassica rapa)
DI PT. BISI INTERNATIONAL TBK.
DI DESA NGROTO KECAMATAN PUJON
KABUPATEN MALANG
LAPORAN KEGIATAN MAGANG MAHASISWA
Oleh:
KANANG
NIM. 2011330024
PROGRAM
STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG
2013
BUDIDAYA SAWI DAGING (Brassica rapa)
DI PT. BISI INTERNATIONAL TBK.
DI DESA NGROTO KECAMATAN PUJON
KABUPATEN MALANG
LAPORAN KEGIATAN MAGANG MAHASISWA
Oleh:
KANANG
NIM. 2011330024
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG
2013
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. atas limpahan rahmat serta
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan kegiatan
magang ini.
Kegiatan
magang ini merupakan kegiatan wajib yang dilaksanakan oleh Fakultas Pertanian
dengan maksud untuk memperkaya pengetahuan mahasiswa terhadap bidang profesi
yang dituju. laporan magang ini disusun sebagai pelengkap kegiatan magang yang
telah dilaksanakan kurang lebih selama satu bulan di PT. BISI INTERNATIONAL
TbK.
Dalam
proses penyusunan laporan magang ini, penulis tentunya mendapatkan banyak
bimbingan, arahan, dan saran dari berbagai pihak yang telah banyak berperan
hingga terselesaikannya laporan magang ini, maka dari itu penulis mengucapkan
terimakasih sedalam-dalamnya kepada:
1. lbu
Ricky lndri Hapsari SP., MP. selaku dosen pembimbing
2. Pimpinan
PT. BlSl INTERNATIONAL Tbk.
3. Bapak
Agung Adriansyah, SP., selaku pembimbing lapang PT. BISI INTERNATIONAL Tbk.
4. Staf
dan karyawan PT. BlSl INTERNATIONAL Tbk.
Penulis
menyadari bahwa masih banyak kekurangan didalam penyusunan laporan kegiatan
magang ini baik dari segi penulisan maupun teknik penyajiannya, mengingat
keterbatasan pengetahuan yang dimiliki penulis. Oleh karena itu kritik dan
saran yang membangun penulis harapkan.
Malang,
Oktober 2014
Penulis
DAFTAR
ISI
Halaman
KATA PENGANTAR
..................................................................................... i
DAFTAR ISI
..................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL............................................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR........................................................................................ iv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... v
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2
Tujuan ..................................................................................................... 2
1.3
Manfaat ................................................................................................... 3
1.4
Batasan Masalah ..................................................................................... 3
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Sawi ........................................................................................................ 4
2.2
Teknik Budidaya .................................................................................... 7
2.3
Hama dan Penyakit ................................................................................. 11
III.
METODOLOGI
3.1
Waktu dan Tempat ................................................................................. 16
3.2
Alat dan Bahan ....................................................................................... 16
3.3
Metode Penelitian ................................................................................... 17
IV.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil ........................................................................................................ 18
4.2
Pembahasan ............................................................................................ 18
V.
PENUTUP
5.1
Kesimpulan.............................................................................................. 29
5.2
Saran ....................................................................................................... 29
DAFTAR PUSTAKA
...................................................................................... 30
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
PT.
BlSl INTERNATIONAL Tbk. merupakan perusahaan multinasional yang bergerak dalam
bidang perbenihan melalui teknologi pemuliaan tanaman dengan menggabungkan
penelitian dan laboratorium, sehingga menghasilkan benih yang berkualitas,
beradaptasi luas, tahan hama dan penyakit, dan berproduksi tinggi. Perusahaan
yang berdiri pada tahun 1983 ini telah mendapatkan Sertifikat Mandiri pada
tahun 2006 dan telah mendapatkan Akreditasi Sistem Mutu dari Lembaga Sistem Sertifikasi
Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura LSSM – BTPH pada tahun 2000 silam,
kemudian pada tahun 2005 mendapatkan sertifikat untuk Sertifikasi Sistem
Managemen Mutu sesuai standar SNI dan LSM - BTPH dan KAN (Komite Akreditasi
Nasional), sehingga perusahaan ini telah mendapatkan kepercayaan dari
pemerintah sebagai instalasi karantina tumbuhan dan memiliki wewenang untuk mengevaluasi
kesehatan benih.
Manajemen
di dalam PT. BlSl INTERNATIONAL Tbk. sendiri terbagi kedalam beberapa
departemen antara lain Departemen Penelitian dan Pengembangan Produk (R&D),
Departemen Produksi, dan Departemen Quality Control (Q&C). Salah satu
contoh dari Departemen Penelitian dan Pengembangan Produk (R&D) adalah Farm
RD Pujon yang terletak di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang yang memiliki luas lahan
mencapai 3,4 hektar dengan ketinggian 1000 mdpl. Farm RD Pujon sendiri
difungsikan sebagai lokasi pengujian dan penelitian untuk menemukan varietas
unggul baru tanaman sayur hortikultura dataran tinggi melalui penerapan
teknologi pemuliaan tanaman. Salah satu jenis tanaman hortikultura yang
dibudidayakan dan diteliti oleh Farm RD Pujon adalah tanaman sawi daging (brassica rapa).
Tanaman
sawi merupakan jenis tanaman semusim. Bentuknya hampir menyerupai caisim. Sawi
dan caisim kadang sukar dibedakan. Sawi berdaun lonjong, halus, tidak berbulu,
dan tidak berkrop. Kedua sayuran tersebut dapat disilangkan (kawin silang).
Hampir setiap orang gemar akan sawi karena rasanya segar dan banyak mengandung
vitamin A, vitamin B, dan sedikit vitamin C. Bagian tanaman sawi yang
dimanfaatkan adalah bagian daunnya yang dikonsumsi baik dalam bentuk segar
maupun diolah.
Tanaman
sawi sendiri tergolong sebagai tanaman yang memiliki umur panen yang relatif
pendek dan memiliki kandungan gizi yang tinggi, maka dari itu dalam rangka
memenuhi persyaratan wajib magang dari universitas serta dalam rangka
mempersiapkan diri dalam memasuki dunia kerja, PT. BlSl INTERNATIONAL menjadi
pilihan utama sebagai tempat pelaksanaan magang dengan tanaman sawi sebagai
objek budidayanya dengan judul "Budidaya Sawi Daging (Brassica rapa) di PT. BlSl INTERNATIONAL Tbk. di Desa Ngroto
Kecamatan pujon Kabupaten Malang".
1.2 Tujuan
Tujuan
yang ingin dicapai dari diadakannya kegiatan magang ini antara lain adalah
sebagai berikut :
a. Menunjang
kemampuan kognitif dan afektif mahasiswa. Mahasiswa mampu menjadi competitive students, yang memahami
keilmuan dari segi teoritis dan praktis.
b. Meningkatkan
pengetahuan, wawasan dan kemampuan psikomotorik mahasiswa dalam mengaplikasikan
pengetahuan kognitif yang telah diperoleh dalam perkuliahan.
c. Memperkenalkan
dan mempersiapkan mahasiswa akan realitas dunia kerja khususnya di lnstansi
Pertanian, sehingga dapat meningkatkan mutu lulusan.
d. Sebagai
kegiatan pendukung pelaksanaan PKL dan Penelitian mahasiswa.
e. Mengetahui
prospek peluang kerja kedepan.
1.3 Manfaat
Manfaat
yang ingin diperoleh dengan melaksanakan kegiatan magang ini antara lain adalah
sebagai berikut:
a. Mendapatkan
ilmu, wawasan, dan pengalaman baru khususnya dibidang budidaya hortikultura.
b. Memenuhi
persyaratan wajib magang Fakultas Pertanian Universitas Tribhuwana Tunggadewi.
c. Mendapat
tambahan wawasan dan pengalaman kerja dalam kegiatan pembudidayaan tanarnan.
1.4 Batasan Masalah
Didalam
penyusunan laporan magang ini diperlukan adanya batasan masalah, sehingga pembahasan
dalam laporan magang ini dapat terarah dan tidak melenceng dari tema dan judul
yang seharusnya. Pembahasan didalam laporan magang ini akan bertumpu pada tema
dan judul yang telah diambil yakni budidaya sawi daging.
III. METODE PENELITIAN
3.1 Waktu
dan Tempat
Waktu
pelaksanaan kegiatan magang ini terhitung dari tanggal 19 Agustus sampai dengan
19 September 2013, dengan uraian jadwal kegiatan magang terlampir. Kegiatan
magang ini dilaksanakan di rumah kaca dan kebun lapang, PT. BlSl INTERNATIONAL
Tbk. yang beralamatkan di Desa Ngroto Kecamatan Pujon Kabupaten Malang.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan
yang dipakai pada kegiatan ini antara lain adalah sebagai berikut :
-
Benih sawi varietas Green Fortune
-
Benih sawi varietas PC 12002
-
Pupuk NPK jenis Mutiara
-
Pestisida jenis Magenta dengan bahan aktif Benomil
-
Pestisida jenis Victory 80 WP dengan bahan akiif Mankozeb
Alat
yang dipakai pada kegiatan ini antara lain :
-
Cangkul untuk pengolahan lahan dan penyiangan
-
Alat tulis menulis untuk mencatat dan mengukur data – data tanaman
-
Gembor untuk penyiraman
-
Selang karet untuk penyiraman
-
Jangka sorong untuk mengukur diameter batang sewaktu panen
-
Timbangan untuk mengukur berat massa tanaman
-
Kamera untuk mendokumentasikan kegiatan
3.3 Metode
Metode
yang dipakai dalam pelaksanaan magang ini adalah praktek langsung mulai dari
persiapan media tanam, pembibitan, pemeliharaan, hingga pemanenan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Penyiapan
benih dan pembibitan
Benih
yang akan ditanam adalah benih yang memenuhi syarat sebagai benih yang sehat,
yakni memiliki bentuk fisiologis yang bagus, tidak cacat, mengkilat, bernas,
bebas hama dan penyakit serta tidak tercampur dengan benih lain, dan juga
memiliki daya tumbuh diatas 90%, serta memiliki pola pertumbuhan yang seragam. Benih
yang akan ditanam merupakan benih yang telah bersertifikasi sehingga mutu dari
benih tersebut terjamin, hal ini tentu akan berbeda jika benih yang dipakai merupakan
benih hasil produksi sendiri yang belum terjamin kualitasnya.
Benih
yang telah bersertifikasi merupakan benih yang telah teruji kualitasnya, benih tersebut
telah diuji oleh badan penguji yang telah ditunjuk negara untuk melakukan
pengujian terhadap kelayakan benih. Benih
yang telah lolos pengujian merupakan benih yang memiliki kualitas yang baik,
karena benih yang bersertifikasi memiliki daya tumbuh minimal 90%, pola
pertumbuhannya seragam, tahan hama dan penyakit, dan beberapa kelebihan
lainnya. Berbeda dengan benih hasil produksi sendiri yang belum teruji kualitasnya,
benih bersertifikasi Iebih menjanjikan hasil yang maksimal. Benih produksi
sendiri memiliki berbagai macam kekurangan yang dapat rnenyebabkan terjadinya
kegagalan usaha budidaya.
Pembibitan
dapat dilakukan dengan menaburkan benih sawi pada wadah yang berisikan media
berupa campuran antara serbuk gergaji dari batang kelapa dan juga cocopit yang
sebelumnya telah dibasahi terlebih dahulu. Dalam waktu 3 - 4 minggu benih akan
tumbuh, kemudian benih dipindah kedalam polibag plastik yang berisi media
campuran serbuk gergaji dari batang pohon kelapa dan cocopit sebelum ditanam
dilahan terbuka.
Pada
tahap pembibitan, benih yang ditanam harus mendapatkan asupan air yang cukup,
sehingga proses pematahan dormansi dapat berlangsung. Tempat yang digunakan
untuk pembibitan diusahakan untuk terhindar dari matahari langsung dan memenuhi
standar kelembaban untuk benih dapat tumbuh.
4.2 Penyiapan
lahan
Pengolahan
tanah dapat dilakukan dengan pencangkulan, hal ini dimaksudkan untuk
menggemburkan tanah dengan jalan memperbaiki struktur, airasi, dan kesuburan
tanah. Tanah yang akan digemburkan harus terlebih dahulu di bersihkan dari
rerumputan dan batu-batuan.
Kedalaman
tanah yang dicangkul adalah berkisar antara 20 - 40 cm, dan jika tanah yang
akan ditanami menunjukkan derajat kemasaman maka perlu dilakukan pengapuran
untuk menaikan pH tanah. Tanah yang diolah dibentuk bedengan dengan tinggi 30 cm, dengan lebar 80
- 100 cm, dan panjang bedengan menyesuaikan keadaan lahan. Sesudah bedengan
telah siap, tahap selanjutnya adalah pembuatan jarak tanam. Jarak tanam di buat
menggunakan tugal dengan ukuran 30 x 30 cm.
Tahap
penyiapan lahan dilaksanakan sama seperti usaha budidaya pada umumnya, untuk
lahan yang dipakai usaha budidaya sawi daging ini tergolong sebagai tanah yang
subur sehingga penyiapan lahan hanya sebatas pencangkulan dan pembentukan
bedengan tanpa perlu diberi tambahan pupuk kandang ataupun pengapuran.
Sesudah
bedengan telah terbentuk, tahap selanjutnya adalah pembuatan lubang tanam, jika
kondisi lahan dalam keadaan kering dapat dilakukan penyiraman untuk membuat
permukaan bedengan menjadi lebih mudah untuk ditugal.
Pembuatan
lubang tanam mengikuti pola jarak tanam yang diinginkan, penanaman dengan
mengikuti pola jarak tanam akan memberikan berbagai macam keuntungan mulai dari
penerimaan cahaya matahari yang lebih optimal, menghindari persaingan perebutan
unsur hara, hingga memudahkan perawatan seperti penyiangan dan penyiraman.
4.3 Penanaman
Benih
yang telah tumbuh menjadi bibit dan telah dipindakan pada polibag plastik
kemudian dipindah ke lahan penanaman. Pemindahan bibit dari polibag ke lahan dilakukan
dengan cara menyertakan media dalam polibag ke dalam lubang tanam sesudah
dikeluarkan dari polibag plastik. Sebelum dipindahkan ke dalam lubang tanam,
pastikan bedengan telah disirami terlebih dahulu, hal ini dimaksudkan agar
tanah dalam kondisi lembab, sehingga tanaman mudah untuk beradaptasi dan menghindari
kelayuan terhadap tanaman.
Pada
tahap penanaman bibit, sebelum bibit dikeluarkan dari polibag plastik, tanaman
disiram terlebih dahulu, hal ini dimaksudkan agar saat pemindahan bibit dari
polibag ke lahan penanaman, bibit berada dalam kondisi segar, disamping itu
juga untuk memudahkan pengeluaran tanaman dari polibag plastik. Saat pemindahan
bibit ke lahan penanaman disertakan pula media dalam polibag ke dalam lubang
tanarn, hal ini dimaksudkan agar tanaman dapat Iangsung beradaptasi dengan lingkungan
baru dengan bantuan media dasar.
Setelah
bibit dimasukkan kedalam lubang tanam, hal selanjutnya adalah rnenutup lubang
tanam dengan tanah atau pupuk kandang sebatas leher batang tanaman, sesudah itu
kemudian disiram. Waktu yang baik untuk pemindahan bibit ke lahan penanaman
adalah pada pagi atau sore hari. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari
kemungkinan bibit akan mati karena kepanasan.
4.4 Pemeliharaan
tanaman
Pemeliharaan
tanaman meliputi berbagai macam kegiatan yang ditujukan untuk pemeliharaan
tanaman yang meliputi penyiraman, penyiangan, pembumbunan, dan pemupukan.
Penyiraman tanaman di lakukan minimal 2 hari sekali, hal ini dapat disesuaikan
dengan kondisi lahan jika memang dalam keadaan kemarau bisa dilakukan
penyiraman setiap hari. Penyiraman dapat dilaksanakan setiap dua hari sekali
dan tergantung pada kondisi lahan, jika kondisi lahan menunjukkan dalam kondisi
cepat kering dengan penyiraman dua hari sekali, penyiraman dapat diintensifkan
menjadi setiap hari.
Banyak
sedikitnya air yang di berikan kepada tanaman adalah sesuai dengan kapasitas
lapangnya. Kebutuhan masing masing tanaman terhadap air berbeda - beda, tanaman
jika mendapatkan terlalu banyak air dapat menyebabkan tanaman menjadi mati
dikarenakan terjadinya pembusukan akar, dan jika air yang didapatkan tanaman
terlalu sedikit, tanaman dapat menjadi layu kemudian mati.
Penyiangan
gulma minimal dilakukan 1 - 2 minggu sekali, hal ini dimaksudkan agar
pertumbuhan gulma dapat terkendali sehingga meminimalisir terjadinya persaingan
antara tanaman budidaya dengan gulma. Pembumbunan dapat dilakukan pada minggu
ke 2 - 3 setelah penanaman. Tujuan dari pembumbunan ini disamping untuk menjaga
kelembaban tanah, juga bermanfaat untuk mengontrol pertumbuhan gulma.
Kegiatan
penyiangan dilaksanakan seperti biasa dengan menyesuaikan kondisi lapangan.
Penyiangan dapat dilakukan secara manual jika gulma yang tumbuh tidak terlalu
banyak. Gulma yang tumbuh di lahan penanaman antara lain didominasi oleh gulma
sejenis teki - tekian dan krokot. Pentingnya penyiangan ini disamping untuk menghindari
terjadinya perebutan unsur hara antara tanaman budidaya dengan gulma, tetapi juga
untuk menekan terjadinya serangan hama dan penyakit. Beberapa jenis gulma dapat
menjadi inang bagi hama dan penyakit.
Penyulaman
juga termasuk kedalam pemeliharaan tanaman, pemeliharaan bentuk ini dilakukan
jika terdapat tanaman yang mati. Pada awal pembibitan diusahakan untuk menyemai
dengan jumlah berlebih, hal ini dimaksudkan jika terdapat tanaman yang mati
dapat langsung disulam. Kelebihan penyulaman menggunakan bibit yang penyemaiannya
bersamaan dengan awal pembibitan adalah umur dan tinggi tanaman tidak terpaut
terlalu jauh, hal ini nanti akan membantu pada saat pemanenan karena umur
tanaman yang seragam.
Pemupukan
dilakukan sebanyak 1 kali yakni saat tanaman berumur 14 hari setelah tanam,
pupuk yang digunakan adalah pupuk NPK jenis Mutiara. Proses pemupukan dengan
cara dibenamkan dalam tanah lewat lubang yang dibuat menggunakan tugal, lubang
tugal di buat antar 2 tanaman dalam jarak jangkauan akar dengan maksud penyerapan
hara dari pupuk oleh akar dapat maksimal.
Dalam
rangka untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan dari tanaman budidaya,
diperlukan adanya pengukuran vegetatif tanaman yang dilaksanakan setiap satu
minggu sekali, berikut adalah hasil dari pengukuran pertumbuhan sawi daging :
Tabel
1. menggambarkan pola pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya dalam hal
ini adalah tanaman sawi daging. Terdapat dua jenis varietas sawi daging yang
dibudidayakan dan menjadi objek pembahasan dalam laporan ini, yakni varietas
Green Fortune dan varietas PC 12002.
Tanaman
sawi daging varietas Green Fortune merupakan varietas lokal yang telah banyak dibudidayakan
oleh petani, sedangkan untuk varietas PC 12002 merupakan varietas impor yang
masih dalam tahap pengembangan untuk dibudidayakan di lndonesia. Masing –
masing varietas tersebut memiliki keunggulan dan kelemahannya masing masing.
Tabel
diatas memberikan sejumlah gambaran melalui data terhadap kedua jenis varietas
yang menjadi objek pembudidayaan. Data tinggi tanaman menunjukkan varietas PC 12002
lebih unggul dibandingkan dengan varietas Green Fortune, hal ini dapat dilihat
pada tiga kali pengukuran terakhir. Hal ini dikarenakan varietas PC 12002 pola pertumbuhan
tangkai dan daun lebih menunjukkan kearah vertikal, berbeda dengan varietas
Green Fortune yang pada umunya pertumbuhan tangkai dan daunnya melandai.
Sejalan
dengan data tinggi tanaman, rekapitulasi data lebar tanaman juga menunjukkan
hal yang senada bahwa varietas PC 12002 secara kuantitatif lebih unggul
dibandingkan varietas Green Fortune, hal ini dapat kita lihat pada pengukuran
pertama hingga pengukuran keempat. Hal tersebut dikarenakan pengukuran lebar
tanaman diambil dengan cara mengukur panjang luasan kanopi daun terpanjang.
Tanaman
sawi daging varietas PC 12002 memiliki bentuk daun yang lonjong dengan tepi
daun melebar dan ujung yang meruncing, sedangkan varietas Green Fortune
memiliki bentuk daun bulat dengan tepi daun yang melebar dan ujung daun yang
tambun, sehingga pada data kuantitatif panjang dan lebar daun, varietas PC 12002
lebih unggul secara kuantitatif jika dibandingkan varietas Green Fortune.
Berbeda
dengan empat data kuantitatif yang menyatakan varietas PC 12002 lebih unggul
jika dibandingkan dengan varietas Green Fortune, data kuantitatif jumlah daun
menunjukkan varietas Green Fortune memiliki jumlah daun yang lebih banyak jika
dibandingkan dengan varietas PC 12002 Hal tersebut dapat kita lihat pada data
kuantitatif jumlah daun dari pengukuran pertama hingga pengukuran ke lima.
Berdasarkan
data kuantitatif pengukuran, kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa varietas
PC 12002 dinyatakan lebih unggul dibandingkan dengan varietas Green Fortune terhadap
data tinggi dan lebar tanaman kemudian panjang, lebar, serta jumlah daun.
4.5 Hama
dan penyakit
Hama
Hama
yang menyerang tanaman sawi daging antara lain adalah sebagai berikut:
a.
Ulat grayak (Spodoptera litura dan Spodoptera exigua)
Bagian
tanaman yang diserang adalah bagian daun tanaman dan tangkai daun, sehingga
daun yang telah terserang ulat grayak ini terlihat berlubang - lubang, bahkan
jika serangan yang terjadi berat dapat menyebabkan tanaman mati.
Serangan
hama ulat grayak ini dianggap berbahaya jika telah melewati batas toleransi
serangan hama yang dapat menimbulkan kerugian. Dampak dari serangan ulat grayak
ini secara visual akan membuat tampilan daun tanaman akan menjadi kurang indah
karena banyaknya terdapat lubang - lubang bekas serangan ulat, kemudian
ditinjau secara fungsional morfologi tanaman akan berdampak pada terganggunya
proses metabolisme tanaman dan memberikan peluang terjadinya infeksi yang
menjadi jalan masuknya bekteri dan virus yang dapat menyebabkan tanaman
terjangkit penyakit.
b.
Phyllotreta striolata
Hama
jenis ini menyerang bagian tanaman berupa daun. Serangan hama ini menyebabkan
bagian daun tanaman menjadi berlubang lubang, perbedaan serangan hama Phyllotreta striolata dan ulat adalah
tingkat kerusakan serta waktu terjadinya serangan. Tanaman yang terserang hama,
tingkat kerusakan yang ditimbulkan dapat bervariasi tergantung jumlah hama yang
menyerang dan populasi tanaman, akan tetapi jika diamati secara visual bekas
serangan hama ulat lebih besar jika dibandingkan hama Phyllotreta striolata. Meskipun tingkat serangan berbeda hal ini
tentu merugikan karena akan merusak jaringan pada daun dan akan berpengaruh
terhadap proses fotosintesis tanaman.
Penyakit
Penyakit
yang menyerang tanaman sawi antara lain adalah sebagai berikut :
a. Bercak
daun
Pada
daun tanaman yang terserang penyakit ini terlihat bercak - bercak coklat pada permukaan
daun tanaman. Bercak - bercak ini dapat mengganggu proses penangkapan sinar
matahari oleh daun, hal ini tentu akan berpengaruh terhadap proses fotosintesis
tanaman yang memerlukan sinar matahari.
b. Karat
daun
Terjangkitnya
tanaman oleh penyakit ini memperlihatkan gejala dengan adanya noda - noda
coklat yang permanen seperti karat pada permukaan daun. Hal ini tentu juga akan
berpengaruh pada proses fotosintesis yang terjadi pada tanaman.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian
hama dan penyakit dilakukan dengan menyemprotkan pestisida Victory 80 WP dengan
bahan aktif Simoksanil 8 % dan Mankozeb 64 %, kemudian diaplikasikan bersamaan
dengan pestisida Magenta 50 WP . Victory
80 WP merupakan fungisida kontak berbentuk tepung berwarna kuning dapat
disuspensikan dalam air, digunakan untuk mengendalikan penyakit busuk daun (Phytophthora infestans) pada tanaman
Kentang dan Tomat, Penyakit antraknosa (Colletotichum
capsici, Colletotrichum gloeospoioides) pada tanaman Cabai dan Penyakit
Bercak Ungu (Altermari porri) pada tanaman
bawang merah.
Magenta
50 WP merupakan fungisida sistemik dan kuratif berbentuk tepung berwarna putih
yang dapat disuspensikan dalam air, digunakan untuk mengendalikan penyakit
rebah semai Phytium sp. pada tanaman
Kubis dan penyakit pada tanaman Cabai dengan bahan aktif Benomil 50%.
Panen
Tanaman
sawi dapat dipanen setelah berumur 30 - 40 hari setelah tanam, cara
pemanenannya yakni dengan mencabut tanaman tersebut, kemudian dibersihkan
dengan menghilangkan kotoran yang terdapat pada tanaman sawi dan memotong
bagian batang hingga akar dan juga daun-daun sawi yang berada paling bawah
karena biasanya dalam kondisi layu atau tidak layak jual. Kemudian sisa dari
pemanenan yang berupa batang hingga akar dapat dikembalikan ke lahan sebagai mulsa
atau pupuk organik.
Pada
saat pemanenan perlu dilakukan pengukuran pada tanaman dengan maksud untuk
mengetahui berhasil atau tidaknya usaha budidaya yang kita lakukan. Berikut ini
adalah tabel hasil panen sawi daging :
Berdasarkan
tabel diatas, hasil panen sawi daging menunjukkan hasil tertinggi diperoleh
dari hasil panen sawi daging varietas PC 12002, meskipun berbeda tipis dengan
hasil panen sawi daging varietas Green Fortune, hal ini dapat kita lihat dari
keseluruhan data dimulai dari data kuantitatif tanaman, daun, maupun pengukuran
petiole.
Tanaman
sawi varietas PC 12002 mengungguli varietas Green Fortune dengan data akhir
tinggi tanaman 22,7 cm, lebar tanaman 34,9 cm, dan berat tanaman hingga 4533,3
g per 39 tanaman. Begitu pula untuk data kuantitatif pengukuran daun dengan
panjang dan lebar daun sebesar 16,2 dan 15,0. Data pengukuran terakhir adalah
data pengukuran petiole yang juga hasil tertinggi diperoleh varietas PC 12002 dengan
panjang dan lebar petiole sebesar 8,2 dan 2,8.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,
2410. Profil PT. BlSl INTERNATIONAL Tbk. http :l/www.tan i ndo. com/index.
php?option=com_content&view=section&layout=bloq&id12<emid=10,
Diakses pada Minggu, 08 September 2013
Cahyono,
B. 2003. Teknik Budidaya dan Analisa Usaha Tani Sawi Putih. Haryanto, E. Sawi
dan Selada. Penebar Swadaya. Jakarta.
Haryanto,
E., Tina Suhartini, Estu Rahayu & Hendro Sunarjono. 2005. Sawidan Selada.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Jahara,
Ratih. 2009. Sejarah sawi. http://i ndopedia. q u nadarma. ac. id/pdf/4745.
pdf , Diakses pada Senin, 09 September 2013
Rukmana,
R. 1994. Bertanam Petsai dan Sawi. Kanisius. Yogyakarta
Rukmana,
R. 2007. Bertanam Petsai dan Sawi. Kanisius. Yogyakarta
Sunarjono,
Hendro. 2003. Bertanam 30 jenis sayur. Depok. Penebar Swadaya .
Suriatna,
S. 1998. Pupuk dan Pemupukan. Jakarta. Mediatama sarana perkasa.
Sulistiyono,
Luluk. 2004. Dilema Penggunaan Pestisida Dalam Sistem Pertanian Tanaman
Hortikultura di Indonesia. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor



Komentar
Posting Komentar