PENGUJIAN KETAHANAN KACANG HIJAU TERHADAP PENYAKIT BERCAK DAUN (Cercospora canescens)
PENGUJIAN
KETAHANAN KACANG HIJAU TERHADAP PENYAKIT BERCAK DAUN (Cercospora canescens)
LAPORAN
PRAKTEK
KERJA LAPANGAN
Oleh
:
KANANG
NIM.
2011330024
PROGRAM STUDI
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur
alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat, taufik
dan hidayah-Nya, penyusunan Laporan Praktek Kerja Lapangan yang berjudul “Pengujian
Ketahanan Kacang Hijau Terhadap Penyakit Bercak (Cercospora canescens)” dapat diselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa
dalam proses penulisan laporan ini banyak mengalami kendala, namun berkat
bantuan, bimbingan, kerjasama dari berbagai pihak dan berkah dari Allah SWT
sehingga kendala-kendala yang dihadapi tersebut dapat diatasi. Untuk itu
penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Sutoyo, SP. MP.
selaku Pembimbing Utama dan Ibu Ir. Sumartini selaku Pembimbing Lapangan yang
telah dengan sabar, tekun, tulus dan ikhlas meluangkan waktu, tenaga dan
pikiran memberikan bimbingan, motivasi, arahan, dan saran-saran yang sangat
berharga kepada penulis selama menyusun Laporan Praktek Kerja Lapangan.
Selanjutnya ucapan
terima kasih penulis sampaikan pula kepada:
1. Dr.
Ir. Widowati, MP. selaku Dekan Fakultas Pertanian.
2. Ricky
Indri Hapsari, SP., MP. selaku Ketua Program Studi Agroteknologi.
3. Dr.
Ir. Didik Harnowo, MS. selaku Kepala Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan
Umbi Malang beserta staf dan pegawai.
4. Seluruh
pihak yang telah membantu penulis demi terselesaikannya Laporan Praktek Kerja
Lapangan ini.
Akhirnya, dengan segala
kerendahan hati penulis menyadari masih banyak terdapat
kekurangan-kekurangan, sehingga penulis mengharapkan adanya saran dan kritik yang
bersifat membangun demi kesempurnaan Laporan Praktek Kerja Lapangan ini.
Malang,
Mei 2015
Penulis,
PENGUJIAN
KETAHANAN KACANG HIJAU TERHADAP PENYAKIT BERCAK DAUN (Cercospora canescens)
Kanang
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian
Universitas Tribhuwana Tunggadewi : Jalan Telaga Warna Tlogomas Malang Kode Pos
65144
Telp. (0341) 565500 Fax. (0341)
565522
Abstrak
Penyakit
bercak daun merupakan salah satu penyakit utama tanaman kacang hijau yang dapat
menurunkan potensi hasil tanaman kacang hijau. Intensitas serangan penyakit
bercak daun Cercospora yang
menyebabkan 75% daun tanaman menjadi mati dapat menurunkan potensi hasil hingga
23%. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Februari hingga Maret 2014 di
Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Malang. Salah satu cara untuk
mengatasi penyakit tersebut melalui aplikasi fungisida nabati. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh fungisida nabati terhadap
intensitas serangan penyakit dan hasil tanaman. Metode yang digunakan adalah
Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tujuh perlakuan yaitu ekstrak lengkuas
: ekstrak lerak = 90 : 10 = 990 ml : 10 ml, ekstrak lengkuas : ekstrak lerak =
95 : 5 = 995 ml : 5 ml, ekstrak lengkuas : ekstrak lerak = 97.5 : 2.5 = 997.5
ml : 2.5 ml, ekstrak lengkuas murni, ekstrak lerak murni, fungisida triadimefon
( 2 cc ), dan kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan
kombinasi lengkuas : lerak (95 : 5) menghasilkan intensitas serangan terendah
(15.19%) sedangkan perlakuan kontrol menghasilkan intensitas serangan tertinggi
(35.92%). Perlakuan kombinasi lengkuas : lerak dengan perbandingan 95 : 5 dapat
menghambat intensitas penyakit bercak daun sebesar 20.73% dibandingkan dengan
kontrol (tanpa perlakuan). Perlakuan kombinasi lengkuas : lerak dengan perbandingan 90 : 10 dan 97.5 : 2.5
dinyatakan tidak berbeda nyata dengan perlakuan fungisida triadimefon, sedangkan
pengaruh penggunaan fungisida nabati tidak mempengaruhi pertumbuhan dan hasil
tanaman.
Kata
kunci : Penyakit bercak daun Cercospora
canescens, ekstrak lengkuas, ekstrak lerak, fungisida triadimefon
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Kebutuhan akan kacang
hijau terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Produksi kacang hijau di
Indonesia pada tahun 2011 baru mencapai 341.342 ton, padahal jumlah tersebut
belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap kacang hijau yang mencapai kurang
lebih 350.000 ton, sehingga kebijakan impor dianggap menjadi suatu langkah
bijak untuk menutupi kekurangan tersebut (Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan
Umbi, 2012).
Kendala yang dihadapi dalam
pengembangan komoditi kacang hijau secara umum antara lain adalah sebagai
berikut ; a) minimnya penerapan teknologi yang mengakibatkan produktivitas
belum optimal, b) penggunaan benih bermutu masih rendah, c) penggunaan pupuk
berimbang, hayati dan organik masih rendah, d) kompetisi lahan dengan komoditas
lainnya, e) resiko budidaya tinggi, f) masih dianggap sebagai tanaman sela
dalam sistem budidaya. (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat, 2013).
Salah satu yang menjadi
kendala penting dalam upaya meningkatkan produksi kacang hijau di Indonesia
adalah tingginya resiko serangan hama dan penyakit. Penyakit bercak daun
merupakan salah satu penyakit utama tanaman kacang hijau yang dapat menurunkan
potensi hasil tanaman kacang hijau. Serangan penyakit bercak daun Cercospora dapat menurunkan potensi
hasil hingga 23% jika 75% daun menjadi mati (Quebral, 1978), sedangkan di
Taiwan serangan bercak daun dapat menurunkan potensi hasil hingga 58% (AVDRC,
2005).
Kehilangan potensi
hasil dari tanaman kacang hijau akibat serangan penyakit bercak daun cercospora dapat ditekan hingga 53% dengan
pemberian perlakuan ekstrak langkuas (Sumartini, 2011). Hal tersebut
dikarenakan lengkuas mengandung bahan aktif seperti sineol, kamfor, serta metil
cinamat yang berperan sebagai antibiotik (Harris, 1990).
Berdasarkan latar
belakang diatas penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian terkait penyakit
bercak pada kacang hijau dengan judul “Uji ketahanan kacang hijau terhadap
penyakit bercak (Cercospora canescens)”.
1.2
Tujuan
Membekali diri tentang
masalah dan pemecahannya berkaitan dengan penyakit bercak daun Cercospora canescens pada tanaman kacang
hijau.
1.3 Manfaat
Manfaat yang dapat
diperoleh melalui kegiatan Praktek Kerja Lapangan ini adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan
pengetahuan penulis terkait penyakit bercak Cercospora
pada kacang hijau serta cara pengendalianya.
b. Meningkatkan
pengetahuan dan ketrampilan terhadap penguasaan materi serta aplikasi rancangan percobaan penelitian.
c. Mengetahui
hasil terbaik dari perlakuan yang diujikan pada sampel tanaman.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kacang Hijau (Vigna radiata (L.))
Botani
Menurut
Rukmana (1997), klasifikasi dari tanaman kacang hijau adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Leguminales
Famili : Leguminosae
Genus : Vigna
Spesies : Vigna radiata L. Merr.
Morfologi
Kacang hijau memiliki
susunan tubuh (morfologi) yang terdiri atas akar, batang, daun, bunga, buah,
dan biji. Kacang hijau memiliki sistem perakaran yang bercabang banyak dan
membentuk bintil-bintil akar. Batang kacang hijau berwarna hijau kecoklat-coklatan
atau kemerah-merahan, berukuran kecil, berbulu, dapat tumbuh tegak hingga
ketinggian 30-110 cm, dengan sistem percabangan yang menyebar kesemua arah.
Daun kacang hijau merupakan daun majemuk dengan tiga helai daun pertangkai,
berwarna hijau, berbentuk oval serta berujung lancip (Rukmana, 1997).
Pada umumnya kacang
hijau mulai berbunga pada umur 30-70 hari, dan dapat dipanen pada umur 60-120
hari. Kacang hijau merupakan jenis tanaman determinit dan tergolong sebagai
tanaman yang dapat menyerbuk sendiri hingga 5%. Penyerbukan dilakukan pada
malam hari sebelum membuka awal pada pagi hari. Lama waktu yang dibutuhkan dari
awal pembukaan bunga hingga pemasakan polong berkisar antara 3-4 minggu (Meason
dan Somaatmadja, 1992).
Kacang hijau memiliki
bunga sempurna (hermaprodite), berbentuk kupu-kupu, dan berwarna kuning. Buah
berpolong dengan panjang 6-15 cm berisi 6-16 butir biji perpolongnya. Biji
kacang hijau berbentuk kecil berwarna hijau sampai hijau mengkilap, dengan
berat 0.5 mg-0.8 mg atau 36-78 g per
1000 butir. Biji kacang hijau terdiri atas tiga bagian yakni biji, kotelodon,
dan embrio (Rukmana, 1997).
Kacang hijau yang
digunakan dalam penelitian ini adalah kacang hijau varietas vima-1 yang
merupakan varietas yang dilepaskan oleh Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang
dan Umbi Malang pada tahun 2008. Varietas tersebut merupakan jenis kacang hijau
yang tahan terhadap penyakit embun tepung dengan potensi hasil 1.38 t/ha (Balai
Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2014).
Teknik
Budidaya
Tanaman kacang hijau
dapat tumbuh pada tempat yang memiliki ketinggian kurang dari 600 mdpl dengan
curah hujan 100-400 mm/bulan. Kacang hijau akan tumbuh dengan baik pada tanah
yang memiliki pH tanah antara 5.8-7 dengan kelembaban 60-70% dan suhu 20
-30
C, serta pada tanah yang memiliki
kondisi drainase dan airasi yang cukup baik.
Kacang hijau dapat
ditanam pada lahan sawah setelah pemanenan padi dan tidak perlu dilakukan
pengolahan tanah (TOT) (Atman, 2007). Penanaman dapat dilakukan dengan ataupun
tanpa pembabatan jerami, dan benih yang diperlukan berkisar 50-75 kg/ha (Hilman
et. al., 2004). Penanaman dilakukan
dengan sistem tugal, perlubang tanam diisi dengan 2 biji kacang hijau. Pada
musim hujan, digunakan jarak tanam 40 cm x 15 cm sehingga mencapai populasi 300-400
ribu tanaman/ha, sedangkan pada musim kemarau digunakan jarak tanam 40 cm x 10
cm sehingga populasinya sekitar 400-500 ribu tanaman/ha. Penyulaman dilakukan pada saat tanaman
berumur tidak lebih dari 7 hari (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat,
2013).
Budidaya tanaman kacang
hijau pada umumnya jarang dilakukan pemupukan bahkan tidak dipupuk sama sekali
bila keadaaan tanahnya subur. Menurut Sunantara (2000) tanah yang kurang subur
dapat diberikan pupuk sebesar 50 kg Urea + 60 kg SP36 + 50 KCl/ha,
sedangkan menurut Hilman et al. (2004)
dalam Atman (2009) sebanyak 45 kg Urea + 45 – 90 kg SP36 +50 kg KCl.
Sunantara (2000)
menjelaskan bahwa tanaman kacang hijau merupakan jenis tanaman yang tahan
terhadap cekaman kekeringan, akan tetapi perlu dilakukan penyiraman pada masa-masa
kritis, yaitu: saat tanam, saat berbunga (umur
25 hst), dan saat pengisian polong (umur 45-50 hst). Tanaman
kacang hijau yang ditanam pada tanah bertekstur ringan (berpasir), pengairan dapat
dilakukan sebanyak dua kali yaitu umur 21 dan 38 hst, sedangkan pertanaman di
tanah bertekstur berat (lempung), biasanya diperlukan pengairan hanya satu kali
(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2005).
Penyiangan pada
pertanaman kacang hijau dilakukan sedari awal, hal ini dikarenakan tanaman
kacang hijau tidak tahan bersaing dengan gulma. Penyiangan dapat dilakukan
sebanyak dua kali yakni pada minggu ke dua dan ke empat. Hama yang sering
menyerang tanaman kacang hijau adalah Agromyza
pasheoli (lalat kacang), Spodoptera
sp., Plusia chalsites (ulat) dan
kutu trips. Penyakit kacang hijau pada umumnya adalah Sclerotium rolfsii dan
Cercospora canescens (bercak daun). Pengendalian hama dilakukan dengan
menggunakan varietas unggul yang tahan hama penyakit. Penggunaan pestisida atau
fungisida dilakukan apabila serangan hama tidak dapat dikendalikan dengan cara
biologi (Balai Penelitian Tanaman Pangan, 2011).
Umur kacang hijau umumnya
58-85 hari, pemanenan dapat dilakukan ketika sebagian besar polong telah kering
dan mudah pecah. Polong yang sudah dipetik kemudian dijemur setelah menguning,
kemudian dimasukan kedalam karung dan dipukul-pukul agar biji terlepas dari
polong. Sesudah biji dibersihkan dari kotoran kemudian dijemur lagi sampai 2-3
hari. Biji kemudian disimpan didalam kaleng dan untuk menghindari serangan hama
bubuk dapat ditambahkan abu dapur atau insekstisida.
2.2 Penyakit Bercak Cercospora canescens
Cendawan Cercospora canescens merupakan penyebab
terjadinya penyakit bercak daun pada tanaman kacang hijau. Gejala terjadinya
serangan penyakit bercak antara lain ditemukannya bercak cokelat pada daun
bagian atas, sedangkan pada bagian bawah berwarna cokelat gelap. Serangan
awalnya terjadi pada daun-daun tua, lalu menyebar ke seluruh daun. Ukuran
bercak 1-1.5 cm berbentuk bulat / agak bulat tidak beraturan (Hartono, 2005).
Menurut Fachrudin
(2000), cendawan Cercospora canescens
memiliki konidium seperti jarum / gada terbalik, hialin tidak berwarna,
berujung runcing, dan terdiri atas banyak sekat. Konidiofor membentuk berkas,
kadang-kadang rapat, memencar, kebanyakan lurus, mempunyai bengkokan seperti
lutut, jarang bercabang, warnanya merata, cokelat pucat, atau agak gelap,
bersekat banyak, lebarnya merata, pada ujung konidiofor yang membulat konidium
meninggalkan bekas yang sedang atau besar (Semangun, 2004).
Cercospora
canescens memiliki daur hidup yang sama dengan Cercospora cruenta. Konidium dapat
tersebar melalui angin, dimana jumlah konidium dapat meningkat pada siang hari
akan tetapi mulai menurun pada malam hari (Quebral, 1978). Penyebaran konidium
pada musim penghujan dapat menyebar melalui percikan air, disamping itu juga
dapat terbawa oleh ternak, alat-alat pertanian, atau pakaian. Infeksi baru akan
tampak pada 4-8 hari kemudian (Graham, 1971).
Perkembangan penyakit
ini dibantu oleh kelembaban udara, hujan, dan embun. Penyakit ini lebih banyak
terdapat pada daerah yang sejuk (20
-24°C) (Graham, 1971). Penyakit bercak daun mulai muncul pada saat
tanaman berumur tiga minggu, kemudian berkembang. Penyebaran penyakit jenis ini
dapat melalui angin ataupun serangga, jamur jenis ini menginfeksi tanaman
dengan cara penetrasi langsung melalui mulut daun atau sel-sel epidermis (Semangun,
2004).
Intensitas serangan bercak
daun meningkat dengan cepat pada waktu polong mulai berisi (Grewal, 1978). Pengamatan
intensitas penyakit dilakukan pada saat tanaman berumur 44 hari (Sumartini,
2011). Di Indonesia dilaporkan
intensitas serangan bercak daun yang berkisar antara 34-38%, dapat mengurangi
jumlah polong total, polong bernas, jumlah dan berat biji pertanaman sampai 50%
(Semangun, 1993).
2.3 Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K. Schum)
Alpinia
purpurata K. Schum merupakan tanaman herba berumur panjang yang
banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dan obat-obatan serta tergolong kedalam
simplisia rimpang. Berdasarkan warna rimpang, dikenal dua kultivar lengkuas,
yaitu lengkuas berimpang putih dan berimpang merah. Lengkuas berimpang merah
memiliki batang semu berukuran tinggi 1-1.5 m, diameter batang 1 cm, dan
diameter rimpang 2 cm (Wardana et al.,
2002).
Rumpun dan bentuk
lengkuas merah lebih kecil daripada lengkuas putih. Lengkuas merah juga
memiliki serat yang lebih kasar dibandingkan lengkuas putih. Tanaman lengkuas
berimpang putih sering dimanfaatkan dalam bidang pangan, sedangkan lengkuas
berimpang merah lebih sering digunakan sebagai bahan ramuan obat tradisional (Sinaga,
2009).
Rimpang lengkuas segar
mengandung air sebesar 75%, dalam bentuk kering mengandung karbohidrat 22.44%,
protein 3.07%, dan senyawa kamferid 0.07% (Darwis et al., 1991). Lengkuas mengandung kurang lebih 1% berwarna kuning
kehijauan yang terutama terdiri dari metilsinamat 48%, sineol 20-30%, eugenol,
kamfer 1% seskuiterpen,
-pinen, galangin, dan lain-lain. Selain
itu rimpang juga mengandung senyawa fenol, flavonoid, dan tarponoid (Anonimb,
2011).
Salah satu contoh aplikasi
bahan nabati untuk mengendalikan penyakit bercak daun yakni lengkuas. Lengkuas
mengandung bahan aktif acetoxy-chavicol acetat. Minyak atsiri dari rimpang
lengkuas tersebut dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur seperti Tricophyton rubrum, Trichphyton ajelloi,
Trichopyton mentagrophytes, Microsporum gypseum, dan Epidermo floccosum (Sundari et
al, 2001).
2.4 Lerak (Sapindus rarak)
Sapindus
rarak merupakan tanaman rimba yang tingginya dapat mencapai 42 m
dengan diameter batang 1 m. Tanaman ini tumbuh liar di Jawa pada ketinggian
antara 450 dan 1500 m diatas permukaan laut. Tanaman ini mempunyai batang
berwarna putih kotor. Daun tanaman ini majemuk menyirip ganjil dan anak daun
berbentuk lanset. Bunga tanaman ini melekat di pangkal, kuning, dan daun
mahkotanya empat. Tanaman ini mempunyai buah yang keras, bulat, diameter kurang
kebih 1.5 cm, dan berwarna kuning kecoklatan. Biji tanaman ini tunggang dan berwarna
kuning kecoklatan. Buah lerak terdiri dari 73% daging buah dan 27% biji (Anonima,
2011).
Buah lerak mengandung
beberapa senyawa seperti senyawa saponin, alkaloid, steroid, dan triterpen
dengan besaran kandungannya secara berurutan 12%, 1%, 0.036%, dan 0.029%.
Kandungan utama lerak adalah saponin yang berfungsi sebagai detergen. Senyawa
saponin berguna sebagai antiinflamasi, antimikroba, antijamur, antivirus,
akspektoran, antiulser, perbaikan sintesa protein, stimulasi, dan depresi
susunan saraf pusat dan molusida serta sebagai ekspektoran (Anonimc,
2011).
Saponin
merupakan jenis glikosida yang memiliki karaktersitik berupa buih, mudah larut
dalam air dan tidak mudah larut dalam eter. Terbentuknya buih tersebut
diakibatkan adanya penurunan tegangan permukaan pada cairan. Saponin terbagi
kedalam dua kelompok yakni saponin steroid dan saponin triterpenoid. Saponin
steroid dihidrolisis menghasilkan satu aglikon yang dikenal sebagai saraponin. Saraponin
merupakan tipe saponin yang memiliki efek anti jamur (Prihatman, 2001).
2.5 Fungisida Triadimefon
Triadimefon merupakan
fungisida sistemik berspektrum luas yang digunakan untuk mengatasi karat atau powdery mildew (embun tepung) pada sereal,
buah, sayur, rumput, semak, dan pohon (United State Environmental Protection
Agency, 2006; Salama et al., 1997; Al
– Saleh et al., 1999). Namun perlu
diketahui bahwa triadimefon dapat menyebabkan toksisitas akut maupun kronis,
seperti iritasi mata, iritasi kulit, dan sensitisasi kulit, depresi, hot flush, vaginal dryness, dan menopause dini. Fungisida triadimefon
merupakan fungisida sistemik yang memiliki spectrum jangkauan luas, efektif
dalam mengontrol Ascomycetes, Basidiomycetes,
dan Fungi Imperfecti.
Fungisida triadimefon
bekerja dengan proses penyerapan bahan aktif yang mudah oleh tanaman yang
kemudian disebarkan keseluruh sistem tanaman. Fungisida ini memberikan
perlindungan, efek penyembuhan, serta pemberantasan penyakit dengan cara
menghambat dan mengintervensi pertumbuhan mycelium
dan pembentukan spora (Rachmad, S., 2011). Di Indonesia, triadimefon digunakan
untuk mengatasi penyakit karat dan embun tepung pada tanaman pertanian,
perkebunan, dan hortikultura, antara lain kubis, bayam, tomat, selada, terong,
brokoli, seledri, jagung, kedelai, serta kacang tanah (Chen et al., 2011; Burhanuddin, 2009;
Sudjadi, 2006; Adisarwanto, 2011).
III. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian dengan judul
“Pengujian ketahanan kacang hijau terhadap penyakit bercak (Cercospora canescens)” ini dilaksanakan kurang
lebih selama dua bulan terhitung dari bulan Februari sampai dengan April 2014,
bertempat di Laboratorium Mikologi dan Rumah Kaca, Jurusan Hama dan Penyakit
Tanaman, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Malang di Jalan Raya
Kendalpayak Km. 08 Malang.
3.2 Alat dan Bahan
Penelitian ini
menggunakan alat - alat sebagai berikut: ember ukuran besar, pinset, kertas label,
selang karet, blender, spayer ukuran 2 liter dan 1 liter, wadah tupper wear, gelas
ukur, petridish, gunting. Bahan – bahan yang digunakan antara lain sebagai
berikut benih kacang hijau varietas malang – 1, furadan, lengkuas, lerak, fungisida
triadimefon, Tween 20, aquades.
3.3 Metode Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan didalam rumah kaca (green
house) milik Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Malang di Jalan
Raya Kendalpayak Km. 08 dengan tujuh perlakuan dan empat kali ulangan.
Rancangan Percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak
Lengkap (RAL) Faktorial. Perlakuan yang dimaksud antara lain sebagai berikut :
a. Ekstrak
lengkuas : ekstrak lerak = 90 : 10 = 990 ml: 10 ml
b. Ekstrak
lengkuas : ekstrak lerak = 95 : 5 = 995 ml : 5 ml
c. Ekstrak
lengkuas : ekstrak lerak = 97.5 : 2.5 = 997.5 ml : 2.5 ml
d. Ekstrak
lengkuas murni
e. Ekstrak
lerak murni
f. Fungisida
triadimefon ( 2 cc)
g. Air
(kontrol)
3.4 Parameter
Penelitian
Parameter yang di uji saat
panen (63 HST) adalah intensitas
serangan bercak Cercospora, tinggi
tanaman, jumlah polong, berat brangkasan basah, berat brangkasan kering, berat biji
basah, dan berat biji kering.
3.5 Cara Kerja
Denah pengacakan dan tata letak
4
– IV
|
2
– I
|
5
– II
|
5
– III
|
2
– III
|
3
– II
|
5
– I
|
4
– II
|
7
– IV
|
2
– IV
|
1
– III
|
4
– I
|
2
– II
|
7
– II
|
6
– IV
|
6
– II
|
7
– III
|
7
– I
|
6
– III
|
1
– I
|
3
– I
|
5
– IV
|
3
– III
|
3
– IV
|
1
– IV
|
5
– I
|
5
– III
|
1
- II
|
Uraian
kegiatan
Berikut
uraian kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan:
No.
|
Uraian
Kegiatan
|
Waktu
Pelaksanaan (Februari - April)
|
||||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
13
|
||
1.
|
Penanaman
|
|||||||||||||
2.
|
Inokulasi penyakit
|
|||||||||||||
3.
|
Aplikasi perlakuan I
|
|||||||||||||
4.
|
Aplikasi perlakuan II
|
|||||||||||||
5.
|
Aplikasi perlakuan III
|
|||||||||||||
6.
|
Aplikasi perlakuan IV
|
|||||||||||||
7.
|
Aplikasi perlakuan V
|
|||||||||||||
8.
|
Scoring
intensitas
penyakit
|
|||||||||||||
9.
|
Panen
|
|||||||||||||
Penanaman
kacang hijau
Teknik penanaman kacang
hijau dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Disiapkan
ember yang berisi tanah kemudian disirami air hingga kapasitas lapang.
b. Dibuat
lubang tanam sedalam 1-2 cm sebanyak 4 lubang dalam satu ember dengan jarak
perempat bagian mulut ember.
c. Ditanam
benih kacang hijau varietas vima – 1 dengan masing-masing 2 biji perlubang
tanam.
d. Ditutup
lubang tanam yang telah terisi dua biji benih kacang hijau varietas vima – 1
dengan tanah.
e. Dibuat
sebuah lubang tepat ditengah ember sedalam 1-2 cm.
f. Dimasukkan
fungisida furadan dengan dosis mikro kedalam lubang yang baru dibuat kemudian
ditutup tanah.
g. Penanaman
selesai dilaksanakan.
Inokulasi
Penyakit Bercak (Cercospora canescens)
Cara penularan penyakit
bercak Cercospora (inokulasi) pada
tanaman kacang hijau adalah sebagai berikut:
a. Dipotong
daun tanaman kacang hijau yang terindikasi berpenyakit bercak Cercospora pada tanaman inang menggunakan
gunting.
b. Dipotong
bagian daun yang terkena penyakit bercak daun (mata bercak Cercospora), kemudian dipisahkan dari bagian daun yang tidak
berpenyakit.
c. Ditakar
air aquades sebanyak 1 liter menggunakan gelas ukur.
d. Disiapkan
satu buah blender.
e. Dimasukkan
potongan-potongan daun berbercak Cercospora
kedalam blender.
f. Dituang
1 liter aquades kedalam blender yang telah berisi potongan-potongan daun
berbercak Cercospora.
g. Diblender
campuran 1 liter aquades dan potongan-potongan daun berbercak Cercospora hingga halus.
h. Dikeluarkan
ekstrak yang telah halus dari dalam blender
i.
Ditambahkan Tween 20 sebanyak 3 tetes
menggunakan pipet tetes kedalam ekstrak.
j.
Dimasukkan ekstrak kedalam sprayer
khusus inokulasi spora ukuran 2 liter.
k. Ekstrak
siap untuk diinokulasikan.
l. Disemprotkan ekstrak pada seluruh
permukaan tubuh tanaman tidak terkecuali hingga bagian bawah daun, disarankan
penyemprotan dilakukan pada sore hari.
m. Tanaman
yang telah di semprot ekstrak tersebut kemudian di inkubasi selama satu malam
menggunakan plastik transparan.
n. Proses
inokulasi telah selesai dilaksanakan.
Perlakuan
Persiapan
Bahan Ekstraksi Lengkuas Merah
a. Disiapkan
alat dan bahan yang dibutuhkan.
b. Ditakar
1 liter air bersih menggunakan gelas ukur ukuran 1000 ml.
c. Dicuci
rimpang lengkuas merah dan dibersihkan dari kotoran-kotoran.
d. Dikupas
rimpang lengkuas sebanyak 50 gram kemudian diiris tipis-tipis.
e. Disiapkan
blender kemudian dimasukkan potongan rimpang lengkuas merah sebanyak 50 gram.
f. Ditambahkan
air sebanyak 1 liter kedalam blender kemudian diblender hingga halus.
g. Dikeluarkan
ekstrak lengkuas dari dalam blender kemudian dimasukkan kedalam wadah penampung
(tupper wear) kemudian ditutup dan diinkubasikan selama satu malam.
h. Di
ulang sebanyak 4 kali, hingga mendapatkan total ekstrak lengkuas merah sebanyak
200 gram per 4 liter yang terbagi kedalam
empat wadah.
Persiapan
Bahan Ekstraksi Lerak
a. Disiapkan
alat dan bahan yang dibutuhkan
b. Ditakar
1 liter air bersih menggunakan gelas ukur ukuran 1000 ml.
c. Dicuci
buah lerak dan dibersihkan dari kotoran-kotoran.
d. Ditimbang
10 gram buah lerak untuk 1 liter air menggunakan timbangan digital.
e. Dikupas
buah lerak sebanyak 10 gram kemudian diiris tipis-tipis.
f. Dimasukkan
irisan lerak ke dalam wadah.
g. Ditambahkan
air aquades ke dalam wadah berisi irisan lerak sebanyak 2 liter per 20 gram
lerak.
h. Di
ulang sebanyak 2 kali, hingga mendapatkan total ekstrak lerak sebanyak 20
gram per 2 liter yang terbagi kedalam
dua wadah.
i.
Ekstrak yang sudah didapatkan diinkubasi
selama satu malam sebelum disaring dan digunakan.
Perlakuan
I. Ekstrak Lengkuas (5%) : Ekstrak Lerak (1%) = 90 : 10
Cara pembuatan
ekstrak untuk perlakuan pertama adalah sebagai berikut:
a. Disiapkan
alat dan bahan yang dibutuhkan
b. Diambil
satu wadah berisi ekstrak lengkuas sebanyak 50 gram per liter kemudian disaring
menggunakan penyaring teh dan kain perca, lalu didiamkan.
c. Diambil
satu wadah berisi ekstrak lerak sebanyak 10 gram per liter kemudian disaring
menggunakan penyaring teh dan kain perca, lalu didiamkan.
d. Diambil
ekstrak lengkuas merah sebanyak 10 ml menggunakan gelas ukur
e. Diambil
ekstrak lerak sebanyak 10 ml menggunakan gelas ukur kemudian ditambahkan ke
wadah berisi ekstrak lengkuas yang telah dikurangi sebanyak 10 ml ekstrak
lengkuas.
f. Dimasukkan
ekstrak lengkuas merah (5%) : ekstrak lerak (1%) = 990 ml ekstrak lengkuas
merah, kemudian ditambahkan 10 ml ekstrak lerak kedalam sprayer pertama
g. Sprayer
berisi perlakuan pertama siap digunakan.
Perlakuan
II. Ekstrak Lengkuas (5%) : Ekstrak Lerak (1%) = 95 : 5
Cara pembuatan ekstrak
untuk perlakuan kedua adalah sebagai berikut:
a. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
b. Diambil satu wadah berisi ekstrak
lengkuas sebanyak 50 gram per liter kemudian disaring menggunakan penyaring teh
dan kain perca, lalu didiamkan.
c. Diambil satu wadah berisi ekstrak lerak
sebanyak 10 gram per liter kemudian disaring menggunakan penyaring teh dan kain
perca, lalu didiamkan.
d. Diambil ekstrak lengkuas merah sebanyak 10
ml menggunakan gelas ukur
e. Diambil ekstrak lerak sebanyak 10 ml
menggunakan gelas ukur kemudian ditambahkan ke wadah berisi ekstrak lengkuas
yang telah dikurang sebanyak 10 ml ekstrak lengkuas.
f. Dimasukkan ekstrak lengkuas merah (5%) :
ekstrak lerak (1%) = 995 ml ekstrak lengkuas merah ditambah 5 ml ekstrak lerak
kedalam sprayer kedua
g.
Sprayer berisi perlakuan kedua siap
digunakan.
Perlakuan
III. Ekstrak lengkuas (5%) : Ekstrak Lerak (1%) = 97.5 : 2.5
Cara pembuatan ekstrak untuk perlakuan ketiga adalah
sebagai berikut:
a. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
b. Diambil satu wadah berisi ekstrak
lengkuas sebanyak 50 gram per liter kemudian disaring menggunakan penyaring teh
dan kain perca, lalu didiamkan.
c. Diambil satu wadah berisi ekstrak lerak
sebanyak 10 gram per liter kemudian disaring menggunakan penyaring teh dan kain
perca, lalu didiamkan.
d. Diambil ekstrak lengkuas merah sebanyak
2.5 ml menggunakan pipet ukur
e. Diambil ekstrak lerak sebanyak 2.5 ml
menggunakan gelas ukur kemudian ditambahkan ke wadah berisi ekstrak lengkuas
yang telah dikurang sebanyak 2.5 ml ekstrak lengkuas.
f. Dimasukkan ekstrak lengkuas merah (5%) :
ekstrak lerak (1%) = 997.5 ml ekstrak lengkuas merah ditambah 2.5 ml ekstrak
lerak kedalam sprayer ketiga
g. Sprayer berisi perlakuan ketiga siap
digunakan.
Perlakuan
IV. Ekstrak Lengkuas (5%)
Cara
pembuatan ekstrak untuk perlakuan keempat adalah sebagai berikut:
a.
Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
b. Diambil satu wadah berisi ekstrak
lengkuas sebanyak 50 gram per liter kemudian disaring menggunakan penyaring teh
dan kain perca, lalu didiamkan.
c.
Dimasukkan ekstrak lengkuas merah (5%)
ekstrak lerak kedalam sprayer keempat
d.
Sprayer berisi perlakuan keempat siap
digunakan.
Perlakuan
V. Ekstrak lengkuas (1%)
Cara
pembuatan ekstrak untuk perlakuan kelima adalah sebagai berikut:
a.
Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
b.
Diambil satu wadah berisi ekstrak lerak
sebanyak 10 gram per liter kemudian disaring menggunakan penyaring teh dan kain
perca, lalu didiamkan.
c.
Dimasukkan ekstrak lerak (1%) ekstrak
lerak kedalam sprayer kelima.
d.
Sprayer berisi perlakuan kelima siap
digunakan.
Perlakuan
VI. Fungisida Triadimefon
Cara pembuatan ekstrak untuk perlakuan keenam adalah
sebagai berikut:
a.
Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
b.
Ditakat air sebanyak 1 liter.
c.
Diambil cairan fungisida triadimefon
menggunakan pipet ukur sebanyak 1 cc per liter air.
d.
Dicampurkan dan diaduk air 1 liter
dengan 1 cc fungisida triadimefon.
e.
Sprayer berisi perlakuan keenam siap
digunakan.
Perlakuan
VII. Air
Cara pembuatan perlakuan ketujuh adalah sebagai
berikut:
a.
Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
b.
Ditakar air sebanyak 1 liter.
c.
Dimasukkan air kedalam sprayer ketujuh.
d.
Sprayer berisi perlakuan ketujuh siap
digunakan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Intensitas serangan
terendah kedua didapatkan pada sampel dengan perlakuan fungisida triadimefon
sebesar 18.75%, sedangkan sampel dengan perlakuan lerak 100% (perlakuan 6) menempati
urutan kedua intensitas serangan tertinggi yakni sebesar 25.56%, sedangkan
perlakuan kombinasi antara lengkuas dengan lerak lainya dinyatakan tidak
berbeda nyata secara statistik meskipun dapat menekan laju infeksi penyakit
bercak (Tabel 1).
Berbeda dengan hasil analisis
intensitas serangan yang menunjukkan hasil signifikan, parameter-parameter
pendukung lainnya seperti tinggi tanaman sewaktu panen, jumlah polong, berat
polong, berat brangkasan kering, berat brangkasan basah, berat polong basah,
berat polong kering, dan berat biji kering menunjukkan hasil tidak berbeda
nyata. Parameter berat biji kering pada perlakuan lengkuas murni, lerak murni,
kombinasi lengkuas : lerak, dan fungisida triadimefon dinyatakan lebih baik
dibandingkan kontrol meskipun dinyatakan tidak berbeda nyata secara statistik. Perlakuan
lengkuas (995 ml) : lerak (5 ml) dinyatakan lebih baik dibandingkan perlakuan
yang lain, terdapat selisih 6.35 cm dibandingkan kontrol pada parameter tinggi
tanaman meskipun dinyatakan tidak berbeda nyata secara statistik (Tabel 2).
Perlakuan lengkuas dan
lerak dengan konsentrasi 995 ml dan 5 ml memberikan hasil yang lebih baik
meskipun secara statistik dinyatakan tidak berbeda nyata dibandingkan perlakuan
lainnya pada parameter jumlah polong, dan berat polong basah. Perlakuan
fungisida triadimefon memberikan hasil yang lebih baik pada parameter berat
brangkasan basah dan berat brangkasan kering, akan tetapi juga dinyatakan tidak
berbeda nyata secara statistik (Tabel 2).
4.2 Pembahasan
Penyakit tanaman
merupakan hasil interaksi antara beberapa faktor seperti patogen, inang, serta
lingkungan sekitar yang dikenal dengan segitiga penyakit (disease triangle). Alam memiliki mekanisme keseimbangan yang dapat
mencegah terjadinya ledakan penyakit, adanya campur tangan manusia melalui
penerapan teknologi seringkali mengakibatkan terganggunya keseimbangan alam dan
menimbulkan ledakan penyakit yang serius. Komponen keempat yaitu manusia yang
berinteraksi dengan ketiga komponen penyakit tersebut yang dikenal dengan segi
empat penyakit (disease square) (Nasir
Saleh, 2010).
Penyakit bercak daun
merupakan penyakit yang menempati urutan kedua setelah penyakit embun tepung
yang tergolong sebagai penyakit yang berpengaruh besar terhadap penurunan hasil
tanaman kacang hijau. Penyakit ini disebabkan oleh dua jenis cendawan yakni Cercospora canescens dan Cercospora cruenta,
akan tetapi di lapangan C. canescens lebih
banyak ditemukan (Semangun, 1991).
Penyakit jenis ini
menginfeksi tanaman melalui beberapa cara antara lain dengan cara penetrasi
langsung melalui mulut daun atau sel – sel epidermis (Semangun, 2006). Jamur
ini membentuk konidium berwarna coklat kehijauan pada permukaan daun bagian
atas dan bawah, warna tersebut sama dengan warna konidifor yang dibentuk dan
mempunyai konidium seperti jarum, hialin, pangkalnya terpotong, ujungnya
runcing dan terdiri dari banyak sekat. Jamur ini menyebar karena pengaruh angin
atau juga serangga dan pada musim hujan konidium terbawa oleh percikan air ke
daun yang sehat kemudian jamur ini menginfeksi tanaman.
Gejala awal tanaman
yang terserang penyakit bercak daun pada mulanya timbul bercak kecil yang
berwarna kecoklatan dengan bentuk tidak teratur pada bagian daun yang kemudian
melebar. Beberapa bercak dapat menjadi satu, sehingga membentuk bercak yang
lebih besar. Bagian tengah bercak menjadi berwarna putih yang merupakan
kumpulan spora dari cendawan penyebab penyakit. Serangan bercak daun lebih
banyak terjadi pada fase generatif (Nuryanto et al., 1993).
Menurut Yudiwanti et al. (1998) penyakit bercak daun
berkembang pada pertanaman setelah polong terbentuk. Oleh karena itu, pengaruh
penyakit ini terhadap pengurangan hasil lebih diakibatkan oleh pengaruhnya
terhadap pengurangan kemampuan tanaman dalam pengisian polong, bukan terhadap
pengurangan jumlah polong. Di lain pihak, karena polong terbentuk sebelum
penyakit berkembang pada tanaman, maka jumlahnya kurang dipengaruhi oleh
serangan patogen. Oleh karena itu, karakter jumlah polong total lebih
mencerminkan potensi genetik daya hasil genotipe yang berkaitan dengan penyakit
bercak daun.
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa perlakuan lengkuas dengan sembarang frekuensi dapat menekan laju infeksi
penyakit bercak Cercospora, disamping
itu secara visual prosentase serangan penyakit bercak berkorelasi positif
dengan berat biji kering meskipun dinyatakan tidak berbeda nyata secara
statistika. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 1 dimana sampel tanaman
dengan sembarang perlakuan menghasilkan berat biji kering yang lebih baik
dibandingkan kontrol. Keadaan tersebut diduga disebabkan oleh aktivitas
cendawan Cercospora yang menginfeksi
tanaman menyebabkan terganggunya aktivitas metabolisme tanaman.
Bagian tanaman yang
terinfeksi oleh cendawan Cercospora
canescens biasanya berupa daun tanaman yang merupakan pusat terjadinya
proses fotosintesis. Daun tanaman yang terinfeksi penyakit bercak akan
mengalami kerusakan fisiologis yang menyebabkan terganggunya proses-proses
metabolisme tanaman seperti fotosintesis, respirasi, transpirasi, dan lain
sebagainya. Terganggunya proses-proses metabolisme tanaman akan menyebabkan
terganggunya proses pendistribusian nutrisi tanaman ke seluruh bagian tanaman.
Hal tersebut diduga menjadi penyebab berkurangnya kemampuan tanaman dalam melakukan
proses pengisian polong yang kemudian menjadi indikator rendahnya berat biji
kering.
Pada tingkat serangan
yang berat, penyakit bercak dapat menyebabkan daun menjadi kering dan rontok
sehingga dapat menyebabkan kehilangan hasil yang besar. Tingkat kehilangan
hasil ini berkorelasi positif dengan intensitas serangan dan defoliasi daun.
Selain kehilangan hasil, penyakit karat dan bercak daun juga dapat menurunkan
kualitas biji. Sumartini (2011) mengemukakan bahwa pada berat 100 biji, berat kering brangkasan, tinggi
tanaman, jumlah polong isi, jumlah polong hampa, dan berat kering biji per plot
dan jumlah tanaman dipanen meski secara statistik tidak nyata namun terdapat
kecendrungan bahwa berat kering biji per plot lebih tinggi daripada plot tanpa
perlakuan lengkuas, yaitu sebesar 0,436 kg. Secara visual polong – polong
kacang hijau pada plot yang diberi perlakuan lengkuas lebih besar daripada
tanpa perlakuan lengkuas. Hal ini terbukti bahwa diameter polong pada kelompok
panjang sebesar 0,667 cm berbeda secara nyata dengan 0,633 cm.
Penyakit bercak daun
dapat dikendalikan dengan berbagai cara antara lain rotasi tanaman, pemotongan
bagian tanaman yang terinfeksi, hingga pengunaan pestisida kimia dan nabati.
Perlakuan lengkuas, lerak, kombinasi lengkuas dan lerak, dan fungsida
triadimefon terbukti berpengaruh nyata dalam menekan intensitas serangan
cendawan Cercospora canescens, akan
tetapi secara statistik tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil
tanaman.
Harris (1990)
menyatakan bahwa rimpang lengkuas mengandung beberapa senyawa kimia seperti sineol,
kamfor, serta metil cinamat yang
berperan sebagai bahan antibiotik. Sumber lain mengatakan bahwa rimpang
lengkuas segar mengandung fenol, flavonoid, dan tarponoid
yang bersifat fungitoksik. Senyawa fenolik merupakan senyawa yang
bersifat fungistatik yang dapat mendenaturasi protein dinding jamur yang
menyebabkan kerapuhan pada dinding sel tersebut sehingga mudah ditembus zak
aktif lainnya yang bersifat fungistatik. Jika protein yang terdenaturasi adalah
protein enzim maka enzim tidak dapat bekerja yang menyebabkan metabolisme dan
proses penyerapan terganggu.
Zat aktif anti jamur
yang lainnya adalah asetoksi kavikol asetat yang merupakan senyawa minyak
atsiri (Sundari, D dan Winarno, M. W, 2001). Kandungan bahan
aktif seperti sineol, kamfor, serta metil cinamat yang berperan sebagai
antibiotik pada ekstrak lengkuas dapat
menekan infeksi cendawan Cercospora
canescens (Harris, 1990). Menurut Phabiola (2004) senyawa fenolik
seperti cineol, galangol, dan flavonoid bersifat sebagai fungitoksik sehingga
dapat menghambat germinasi dan penetrasi jamur ke dalam jaringan tubuh tanaman.
Bahan anti jamur lainnya yang dapat menekan infeksi cendawan Cercospora antara lain saraponin yang
merupakan turunan dari saponin yang dikandung oleh buah lerak (Prihatman, 2001).
Perlakuan kombinasi
lengkuas : lerak dengan perbandingan 90
: 10, 97.5 : 2.5, dan lengkuas murni menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata
dengan perlakuan fungisida triadimefon, sehingga perlakuan lengkuas murni serta
kombinasi lengkuas : lerak tersebut mampu menggantikan fungsi fungisida triadimefon
dalam mengendalikan penyakit bercak daun Cercospora
pada kacang hijau. Fungisida triadimefon merupakan bahan kimia yang
memiliki potensi memiliki efek toksik kumulatif yang rendah terhadap tanaman
tetapi memiliki efek toksik yang tinggi terhadap manusia sehingga berpengaruh
terhadap kesehatan manusia. Triadimefon termasuk kedalam kelompok pestisida triazoles
(conazoles) dan juga mencakup pestisida Propiconazole. Fungisida triazole
memiliki unsur senyawa 1,2,4 – triazole, alanintriazole, dan asam asetat
triazole. Triadimenol merupakan metabolit dari Triadimefon yang bersifat
toleran terhadap tanaman (Edwards, 2006).
Penyakit bercak daun Cercospora canescens disamping dapat
dikendalikan melalui pestisida nabati juga
dapat dikendalikan menggunakan penanaman varietas unggul toleran. Yudiwanti
(2006) mengemukakan bahwa adanya korelasi negatif pada varietas unggul melalui peran
antagonis stomata terhadap daya hasil dan terhadap tingkat ketahanan terhadap
penyakit bercak daun. Stomata yang membuka sempit dengan kerapatan rendah
mendukung tingkat ketahanan terhadap penyakit bercak daun karena dapat
menurunkan peluang penetrasi patogen melalui stomata, akan tetapi karakter yang
sama mengurangi difusi karbondioksida ke dalam daun sehingga kapasitas
fotosintesis berkurang dan akibatnya daya hasilnya lebih rendah.
Penggunaan pestisida
nabati dalam mengendalikan penyakit tanaman memiliki beberapa keunggulan
dibandingkan pestisida kimiawi antara lain mudah dan murah dalam proses
pembuatannya, tidak berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan, serta tidak
menimbulkan resistensi penyakit. Dalam rangka mewujudkan pertanian yang sehat,
berkelanjutan, serta ramah lingkungan, penggunaan pestisida nabati lebih
dianjurkan dalam usaha pengendalian hama dan penyakit tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Adisarwanto,
T. 2011. Strategi peningkatan produksi
kedelai sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri dan mengurangi
impor. Pengembangan Inovasi Pertanian 3(4) : 319 – 331.
Al-Saleh,
I., Al – Doush., A. Echeverria, Q. 1999. Residues
of pesticide in grains locally grown in Saudi Arabia. Bulletin
Environmental Contamination and Toxicology. Springer-Verlag New York Inc., 63 ;
451-459.
Anonima. 2011. Tinjauan Pustaka Buah Lerak (Online). http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/4/Chapter%2011.pdf. Diakses 07
Maret 2014.
Anonimb. 2012. Kandungan Fitokimia Lengkuas (Online).
http://library.upnvj.ac.id/pdf/5FKS1KEDOKTERAN/0810211147/BAB%2011.pdf. Diakses 07
Maret 2014.
Anonimc.
2011. Penyakit pada pertanaman kacang
hijau (Online). http://www.emakalah.com/2013/01/penyakit-pada-pertanaman-kacang-hijau.html. Diakses pada 8
Oktober 2014.
Asian
Vegetable Research and Vegetable Centre. 2005. Powdery mildew and Cercospora leaf spot of mungbean. http://www.avrdc.org/L.C/mungbean/production/disease. Diakses pada 8
Oktober 2014.
Atman.
2007. Teknologi Budidaya Kacang Hijau
(Vigna radiata L.) di lahan sawah. Jurnal Ilmiah Tambua VI: 89-95.
Atman.
2009. Teknologi Budidaya Kacang Hijau
(Vigna radiata L.) di Lahan Sawah. ISSN 1412-5838, hlm 92.
Balai Penelitian
Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. 2005. Teknologi
Produksi Kacang-kacan-gan dan umbi-umbian. Malang.
Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi,
2014. Deskripsi kacang hijau varietas
Vima – 1 (Online). http://puslittan.bogor.net/index.php?bawaan=varietas/varietas_detail&komoditas=05027&id=vima%20-/201&pg=1&varietas=1.
Diakses 07
Maret 2014.
Balai Penelitian Tanaman Pangan. 2011. Budidaya Kacang Hijau (Online). http://sulsel.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_contentview=article&id=143:budidaya-kacang-hijau&catid=48:panduanpetunjuk-teknis-leflet&Itemid=53. Diakses 07
Maret 2014.
Burhanuddin, 2009. Penyakit karat Puccinia polysora Underw (Uridinales:Pucciniaceae) pada
tanaman jagung dan pengendaliannya. Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan
Tahunan PEI dan PFI XVIII Komda Sul-sel, hal. 281-289.
Chen, C.. Qian, Y., Chen. Q., Tao, C., Li, C., and
Li, Y. 2011. Evaluation of pesticide
residues in fruits dan vegetables from Xiamen, China. Food Control, No. 22,
p. 1114-20.
Darwis, S. N., Abd. Madjindo, dan Hasiyah. 1991. Tanaman Obat Famili Zingeberasceae.
Pusat Penelitian Tanaman Industri, Bogor.
Dinas
Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat. 2013. Strategi Pengelolaan Produksi Kacang Hijau (Online). http://www.diperta.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/1694.
Diakses 07 Maret 2014.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa barat. 2013. Budidaya Kacang Hijau (Online). http://diperta.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/170.
Diakses
07 Maret 2014.
Direktorat
Budidaya Aneka Kacang dan Umbi. 2012. Kacang
Hijau (Online). http://www.academia.edu/5183662/Kementrian.
Diakses 07 Maret 2014.
Edwards, D. 2006. Triadimefon And Tolerance Reassessment For Triadimenol. Page: 2-3. United
States Environmental Protection Agency.
Fachrudin, Lisdiana. 2000. Budidaya Kacang – kacangan. Yogyakarta. Kanisius.
Ginting, C., D.R.J. Sembodo, H. Susanto, dan M.
Prama Yudi. 1999. Kemampuan beberapa
tepung tumbuhan dalam menekan pertumbuhan Phytoptora capsici dari tanaman lada.
Hal : 512 – 518. Dalam. Soedarmono
(Penyunting). Prosiding Kongres Nasional XV dan Seminar Ilmiah
Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Teknologi Industri Pertanian Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Graham, K. M. 1971. Plant disease of Fiji. Min.
Overseas Dev., Overseas Res. Public. 17, 250 p.
Grewal, J.S. 1978. Diseases of mungbean in India. In. The First International Mungbean
Symposium August 16-19, 1977 at the University of the Philippines at Los Banos.
p: 165-168.
Harris, R. 1990. Tanaman
Minyak Atsiri. Cetakan ke III. Penebar Swadaya. Jakarta. 172 hlm.
Hartono, Rudi. Purwono. 2005. Kacang Hijau. Jakarta. Penebar Swadaya.
Hilman,
Y. A. Kasno, dan N. Saleh. 2004. Kacang-kacangan
dan umbi-umbian: Kontribusi terhadap ketahanan pangan dan perkembangan
teknologinya. Dalam Makarim, et al. (penyunting). Inovasi Pertanian Tanaman
Pangan. Puslitbangtan Bogor; 95-132 hlm.
Kasno,
A. 1986. Pendugaan Parameter Genetik dan
Parameter Stabilitas Hasil dan Komponen Hasil Kacang Tanah (Arachis hypogaea
L.). Disertasi Doktor. Fakultas Pascasarjana IPB. Bogor.
Kusumo,
Yudiwanti W.E. 1991. Pendugaan Parameter
Genetik Beberapa Karakter Kuantitatif Kacang Tanah. Tesis Magister Sains.
Program Pascasarjana IPB. Bogor.
Kusumo,
Yudiwanti W.E. 1996. Analisis Genotipik
Ketahanan Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) terhadap Penyakit Bercak Daun
Hitam Disebabkan oleh Phaeoisariopsis personata (Berk. & Curt.) v. Arx.
Disertasi Doktor. Program Pascasarjana IPB. Bogor. 126 hlm.
Lanang, Selaparang. 2013. Budidaya Kacang Hijau (Online). http://selaparanglanang.blogspot.com/2013/04/budidaya-kacang-hijau.html. Diakses 07
Maret 2014
Malau,
Srihandriatmo. 2012. Kebutuhan Kedelai
Nasional 2013 Tembus 2,2 Juta Ton (On-line).
http://www.tribunnews.com/bisnis/2012/10/15/kebutuhan-kedelai-nasional-2013-tembus-22-juta-ton.html.
04 Februari 2014.
Meason,
L. J. G. Van der & S. Somaatmadja (Eds). 1992. Plant-resources of South-East Asia: Pulses (Vol. 1). Wageningen,
the Netherlands: Pudoc.
Nuryanto, B., Suparyono, dan Sudir. 1993. Periode kritis kacang hijau terhadap
penyakit bercak daun (Cercospora canescens). Hal. 587 – 594. Dalam Risalah
Kongres dam Seminar Ilmiah Nasional XII Perhimpunan Fitopatologi Indonesia.
Yogyakarta.
Phabiola, T. A. 2004. Penggunaan Ekstrak Beberapa Jenis Tumbuhan untuk Mengendalikan Penyakit
Layu Pisang pada Pembibitan dari Bonggol. Tesis. Program Magister Program
Studi Bioteknologi Universitas Udayana. 46 hal.
Prihatman, K. 2001. Saponin untuk Pembasmi Hama Udang. Laporan Hasil Penelitian. Pusat
Penelitian Perkebunan Gambung, Bandung.
Quebral,
F. C. 1978. Powdery mildew and Cercospora
leaf spot of mungbean in the Philippines. Proc. Internat. Mungbean Symp. I, AVRDC : 147-153.
Rachmad, S. 2011. Efek samping fungisida golongan Azole (Online). http://blajartani.blogspot.com/2011/04/efek-samping-fungisida-golongan-azole. diakses pada
11 Oktober 2014.
Rukmana, R. 1997. Kacang Hijau Budidaya dan Pasca Panen. Kanisius. Yogyakarta.
Salama, A.K., Al – Rokaibah, A.A., Al-Ghomiz, N.M.,
and Soliman, S.A., 1997. Persistence of
triadimefon residue in vegetable frui grown in green house: A study demonstrating
Arabia. J. King Saud Univ.
Saleh,
Nasir. 2010. Optimalisasi Pengendalian
Terpadu Penyakit Bercak Daun dan Karat Pada Kacang Tanah. Hal: 289 – 305.
Malang.
Semangun, H. 1991. Penyakit – penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gajah Mada University
Press. Yogyakarta.
Semangun, H. 1993. Penyakit – penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta. Hal 42 - 48.
Semangun, H. 2004. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Semangun, H. 2006. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Sinaga, E., 2009. Dalam Skripsi berjudul Pemanfaatan Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K.
Schum) Sebagai bahan antijamur dalam Sampo. Oleh Rini Budiarti, 2007.
Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Pertanian Institut Pertanian
Bogor.
Sudjadi, M., dan Supriyati, Y., 2006. Perbaikan Teknologi Produksi Kacang Tanah di
Indonesia. Buletin Agrobio 4(2):62-68.
Sumartini. Semnas Pestisida Nabati IV, Jakarta, 15
Oktober 2011, Pengendalian penyakit
bercak daun dengan lengkuas.
Sunantara, I. M. M., 2000. Teknik Produksi Benih Kacang Hijau. No. Agdex : 142/35. No. Seri:
03/ Tanaman/ 2000/ September 2000. Instalasai Penelitian dan Pengkajian
Teknologi Pertanian Denpasar Bali.
Sunantara,
I.M.M. 2000. Teknik produksi benih kacang
hijau. No. Agdex: 142/35. No. Seri: 03/Tanaman/2000/September 2000.
Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Denpasar Bali. Wardana,
et. al., 2002. Dalam Skripsi berjudul Pemanfaatan Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K. Schum) sebagai
bahan anti jamur dalam shampo. Oleh Rini Budiarti, 2007.
Sundari,
D., dan Winarno, M.W. 2001. Informasi
Tumbuhan Sebagai Anti Jamur. Departemen Kesehatan RI. Jakarta
United
States Environmental Protection Agency, EPA. 2006. An Introduction to Environmental Accounting as a Business Tools: Key
Concept and Terms. USA. EPA.
Wardana,
et. al., 2002. Dalam Skripsi berjudul
Pemanfaatan Lengkuas Merah (Alpinia
Purpurata K. Schum) Sebagai Bahan Antijamur dalam Sampo. Oleh Rini
Budiarti, 2007. Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor.
Yudiwanti,
S. Sastrosumarjo, S. Hadi, S. Karama, A. Surkati, dan A.A. Mattjik. 1998. Korelasi genotipik antara hasil dengan
tingkat ketahanan terhadap penyakit bercak daun hitam pada kacang tanah.
Bull. Agron. 26(1):16-21.
Yudiwanti.
2006. Pengaruh antagonis stomata terhadap
ketahanan pada penyakit bercak daun dan daya hasil pada kacang tanah.
Prosiding Seminar Nasional Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman, 1-2 Agustus
2006. Hal. 329 – 334.
Yudiwanti,
B. Wirawan, dan D. Wirnas. 2006. Korelasi
antara kandungan klorofil, ketahanan terhadap penyakit bercak daun dan daya
hasil pada kacang tanah. Prosiding Seminar Nasional Bioteknologi dan
Pemuliaan Tanaman, 1-2 Agustus 2006. Hal. 316 – 319.



Komentar
Posting Komentar