PENGUJIAN KETAHANAN KACANG HIJAU TERHADAP PENYAKIT BERCAK DAUN (Cercospora canescens)







PENGUJIAN KETAHANAN KACANG HIJAU TERHADAP PENYAKIT BERCAK DAUN (Cercospora canescens)
                                            

LAPORAN

PRAKTEK KERJA LAPANGAN




Oleh :
KANANG
NIM. 2011330024





PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG
2015



KATA PENGANTAR


Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat, taufik dan hidayah-Nya, penyusunan Laporan Praktek Kerja Lapangan yang berjudul “Pengujian Ketahanan Kacang Hijau Terhadap Penyakit Bercak (Cercospora canescens)” dapat diselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan laporan ini banyak mengalami kendala, namun berkat bantuan, bimbingan, kerjasama dari berbagai pihak dan berkah dari Allah SWT sehingga kendala-kendala yang dihadapi tersebut dapat diatasi. Untuk itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada  Bapak Sutoyo, SP. MP. selaku Pembimbing Utama dan Ibu Ir. Sumartini selaku Pembimbing Lapangan yang telah dengan sabar, tekun, tulus dan ikhlas meluangkan waktu, tenaga dan pikiran memberikan bimbingan, motivasi, arahan, dan saran-saran yang sangat berharga kepada penulis selama menyusun Laporan Praktek Kerja Lapangan.
Selanjutnya ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada:
1.      Dr. Ir. Widowati, MP. selaku Dekan Fakultas Pertanian.
2.      Ricky Indri Hapsari, SP., MP. selaku Ketua Program Studi Agroteknologi.
3.      Dr. Ir. Didik Harnowo, MS. selaku Kepala Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Malang beserta staf dan pegawai.
4.      Seluruh pihak yang telah membantu penulis demi terselesaikannya Laporan Praktek Kerja Lapangan ini.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati  penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan, sehingga penulis mengharapkan adanya saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan Laporan Praktek Kerja Lapangan ini.                                                                                                              
Malang, Mei 2015
Penulis,



PENGUJIAN KETAHANAN KACANG HIJAU TERHADAP PENYAKIT BERCAK DAUN (Cercospora canescens)

Kanang

Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Tribhuwana Tunggadewi : Jalan Telaga Warna Tlogomas Malang Kode Pos 65144
Telp. (0341) 565500 Fax. (0341) 565522
Abstrak
Penyakit bercak daun merupakan salah satu penyakit utama tanaman kacang hijau yang dapat menurunkan potensi hasil tanaman kacang hijau. Intensitas serangan penyakit bercak daun Cercospora yang menyebabkan 75% daun tanaman menjadi mati dapat menurunkan potensi hasil hingga 23%. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Februari hingga Maret 2014 di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Malang. Salah satu cara untuk mengatasi penyakit tersebut melalui aplikasi fungisida nabati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh fungisida nabati terhadap intensitas serangan penyakit dan hasil tanaman. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tujuh perlakuan yaitu ekstrak lengkuas : ekstrak lerak = 90 : 10 = 990 ml : 10 ml, ekstrak lengkuas : ekstrak lerak = 95 : 5 = 995 ml : 5 ml, ekstrak lengkuas : ekstrak lerak = 97.5 : 2.5 = 997.5 ml : 2.5 ml, ekstrak lengkuas murni, ekstrak lerak murni, fungisida triadimefon ( 2 cc ), dan kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi lengkuas : lerak (95 : 5) menghasilkan intensitas serangan terendah (15.19%) sedangkan perlakuan kontrol menghasilkan intensitas serangan tertinggi (35.92%). Perlakuan kombinasi lengkuas : lerak dengan perbandingan 95 : 5 dapat menghambat intensitas penyakit bercak daun sebesar 20.73% dibandingkan dengan kontrol (tanpa perlakuan). Perlakuan kombinasi lengkuas : lerak  dengan perbandingan 90 : 10 dan 97.5 : 2.5 dinyatakan tidak berbeda nyata dengan perlakuan fungisida triadimefon, sedangkan pengaruh penggunaan fungisida nabati tidak mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman.


Kata kunci : Penyakit bercak daun Cercospora canescens, ekstrak lengkuas, ekstrak lerak, fungisida triadimefon


I. PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Kebutuhan akan kacang hijau terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Produksi kacang hijau di Indonesia pada tahun 2011 baru mencapai 341.342 ton, padahal jumlah tersebut belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap kacang hijau yang mencapai kurang lebih 350.000 ton, sehingga kebijakan impor dianggap menjadi suatu langkah bijak untuk menutupi kekurangan tersebut (Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi, 2012).
Kendala yang dihadapi dalam pengembangan komoditi kacang hijau secara umum antara lain adalah sebagai berikut ; a) minimnya penerapan teknologi yang mengakibatkan produktivitas belum optimal, b) penggunaan benih bermutu masih rendah, c) penggunaan pupuk berimbang, hayati dan organik masih rendah, d) kompetisi lahan dengan komoditas lainnya, e) resiko budidaya tinggi, f) masih dianggap sebagai tanaman sela dalam sistem budidaya. (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat, 2013).
Salah satu yang menjadi kendala penting dalam upaya meningkatkan produksi kacang hijau di Indonesia adalah tingginya resiko serangan hama dan penyakit. Penyakit bercak daun merupakan salah satu penyakit utama tanaman kacang hijau yang dapat menurunkan potensi hasil tanaman kacang hijau. Serangan penyakit bercak daun Cercospora dapat menurunkan potensi hasil hingga 23% jika 75% daun menjadi mati (Quebral, 1978), sedangkan di Taiwan serangan bercak daun dapat menurunkan potensi hasil hingga 58% (AVDRC, 2005).
Kehilangan potensi hasil dari tanaman kacang hijau akibat serangan penyakit bercak daun cercospora dapat ditekan hingga 53% dengan pemberian perlakuan ekstrak langkuas (Sumartini, 2011). Hal tersebut dikarenakan lengkuas mengandung bahan aktif seperti sineol, kamfor, serta metil cinamat yang berperan sebagai antibiotik (Harris, 1990).
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian terkait penyakit bercak pada kacang hijau dengan judul “Uji ketahanan kacang hijau terhadap penyakit bercak (Cercospora canescens)”.

1.2       Tujuan
Membekali diri tentang masalah dan pemecahannya berkaitan dengan penyakit bercak daun Cercospora canescens pada tanaman kacang hijau.

1.3       Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh melalui kegiatan Praktek Kerja Lapangan ini adalah sebagai berikut:
a.       Meningkatkan pengetahuan penulis terkait penyakit bercak Cercospora pada kacang hijau serta cara    pengendalianya.
b.   Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan terhadap penguasaan materi serta aplikasi rancangan    percobaan penelitian.
c.        Mengetahui hasil terbaik dari perlakuan yang diujikan pada sampel tanaman.


II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Kacang Hijau (Vigna radiata (L.))
Botani
Menurut Rukmana (1997), klasifikasi dari tanaman kacang hijau adalah sebagai berikut :
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledonae
Ordo                : Leguminales
Famili              : Leguminosae
Genus              : Vigna
Spesies            : Vigna radiata L. Merr.

Morfologi
Kacang hijau memiliki susunan tubuh (morfologi) yang terdiri atas akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji. Kacang hijau memiliki sistem perakaran yang bercabang banyak dan membentuk bintil-bintil akar. Batang kacang hijau berwarna hijau kecoklat-coklatan atau kemerah-merahan, berukuran kecil, berbulu, dapat tumbuh tegak hingga ketinggian 30-110 cm, dengan sistem percabangan yang menyebar kesemua arah. Daun kacang hijau merupakan daun majemuk dengan tiga helai daun pertangkai, berwarna hijau, berbentuk oval serta berujung lancip (Rukmana, 1997).
Pada umumnya kacang hijau mulai berbunga pada umur 30-70 hari, dan dapat dipanen pada umur 60-120 hari. Kacang hijau merupakan jenis tanaman determinit dan tergolong sebagai tanaman yang dapat menyerbuk sendiri hingga 5%. Penyerbukan dilakukan pada malam hari sebelum membuka awal pada pagi hari. Lama waktu yang dibutuhkan dari awal pembukaan bunga hingga pemasakan polong berkisar antara 3-4 minggu (Meason dan Somaatmadja, 1992).
Kacang hijau memiliki bunga sempurna (hermaprodite), berbentuk kupu-kupu, dan berwarna kuning. Buah berpolong dengan panjang 6-15 cm berisi 6-16 butir biji perpolongnya. Biji kacang hijau berbentuk kecil berwarna hijau sampai hijau mengkilap, dengan berat 0.5 mg-0.8 mg atau 36-78 g  per 1000 butir. Biji kacang hijau terdiri atas tiga bagian yakni biji, kotelodon, dan embrio (Rukmana, 1997).
Kacang hijau yang digunakan dalam penelitian ini adalah kacang hijau varietas vima-1 yang merupakan varietas yang dilepaskan oleh Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Malang pada tahun 2008. Varietas tersebut merupakan jenis kacang hijau yang tahan terhadap penyakit embun tepung dengan potensi hasil 1.38 t/ha (Balai Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2014).

Teknik Budidaya
Tanaman kacang hijau dapat tumbuh pada tempat yang memiliki ketinggian kurang dari 600 mdpl dengan curah hujan 100-400 mm/bulan. Kacang hijau akan tumbuh dengan baik pada tanah yang memiliki pH tanah antara 5.8-7 dengan kelembaban 60-70% dan suhu 20 -30 C, serta pada tanah yang memiliki kondisi drainase dan airasi yang cukup baik. 
Kacang hijau dapat ditanam pada lahan sawah setelah pemanenan padi dan tidak perlu dilakukan pengolahan tanah (TOT) (Atman, 2007). Penanaman dapat dilakukan dengan ataupun tanpa pembabatan jerami, dan benih yang diperlukan berkisar 50-75 kg/ha (Hilman et. al., 2004). Penanaman dilakukan dengan sistem tugal, perlubang tanam diisi dengan 2 biji kacang hijau. Pada musim hujan, digunakan jarak tanam 40 cm x 15 cm sehingga mencapai populasi 300-400 ribu tanaman/ha, sedangkan pada musim kemarau digunakan jarak tanam 40 cm x 10 cm sehingga populasinya sekitar 400-500 ribu tanaman/ha.  Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berumur tidak lebih dari 7 hari (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat, 2013).
Budidaya tanaman kacang hijau pada umumnya jarang dilakukan pemupukan bahkan tidak dipupuk sama sekali bila keadaaan tanahnya subur. Menurut Sunantara (2000) tanah yang kurang subur dapat diberikan pupuk sebesar 50 kg Urea + 60 kg SP36 + 50 KCl/ha, sedangkan menurut Hilman et al. (2004) dalam Atman (2009) sebanyak 45 kg Urea + 45 – 90 kg SP36  +50 kg KCl.
Sunantara (2000) menjelaskan bahwa tanaman kacang hijau merupakan jenis tanaman yang tahan terhadap cekaman kekeringan, akan tetapi perlu dilakukan penyiraman pada masa-masa kritis,  yaitu: saat tanam, saat berbunga (umur 25 hst), dan saat pengisian polong (umur 45-50 hst). Tanaman kacang hijau yang ditanam pada tanah bertekstur ringan (berpasir), pengairan dapat dilakukan sebanyak dua kali yaitu umur 21 dan 38 hst, sedangkan pertanaman di tanah bertekstur berat (lempung), biasanya diperlukan pengairan hanya satu kali (Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2005).
Penyiangan pada pertanaman kacang hijau dilakukan sedari awal, hal ini dikarenakan tanaman kacang hijau tidak tahan bersaing dengan gulma. Penyiangan dapat dilakukan sebanyak dua kali yakni pada minggu ke dua dan ke empat. Hama yang sering menyerang tanaman kacang hijau adalah Agromyza pasheoli (lalat kacang), Spodoptera sp., Plusia chalsites (ulat) dan kutu trips. Penyakit kacang hijau pada umumnya adalah Sclerotium rolfsii dan Cercospora canescens (bercak daun). Pengendalian hama dilakukan dengan menggunakan varietas unggul yang tahan hama penyakit. Penggunaan pestisida atau fungisida dilakukan apabila serangan hama tidak dapat dikendalikan dengan cara biologi (Balai Penelitian Tanaman Pangan, 2011).
Umur kacang hijau umumnya 58-85 hari, pemanenan dapat dilakukan ketika sebagian besar polong telah kering dan mudah pecah. Polong yang sudah dipetik kemudian dijemur setelah menguning, kemudian dimasukan kedalam karung dan dipukul-pukul agar biji terlepas dari polong. Sesudah biji dibersihkan dari kotoran kemudian dijemur lagi sampai 2-3 hari. Biji kemudian disimpan didalam kaleng dan untuk menghindari serangan hama bubuk dapat ditambahkan abu dapur atau insekstisida.

2.2       Penyakit Bercak Cercospora canescens
Cendawan Cercospora canescens merupakan penyebab terjadinya penyakit bercak daun pada tanaman kacang hijau. Gejala terjadinya serangan penyakit bercak antara lain ditemukannya bercak cokelat pada daun bagian atas, sedangkan pada bagian bawah berwarna cokelat gelap. Serangan awalnya terjadi pada daun-daun tua, lalu menyebar ke seluruh daun. Ukuran bercak 1-1.5 cm berbentuk bulat / agak bulat tidak beraturan (Hartono, 2005).
Menurut Fachrudin (2000), cendawan Cercospora canescens memiliki konidium seperti jarum / gada terbalik, hialin tidak berwarna, berujung runcing, dan terdiri atas banyak sekat. Konidiofor membentuk berkas, kadang-kadang rapat, memencar, kebanyakan lurus, mempunyai bengkokan seperti lutut, jarang bercabang, warnanya merata, cokelat pucat, atau agak gelap, bersekat banyak, lebarnya merata, pada ujung konidiofor yang membulat konidium meninggalkan bekas yang sedang atau besar (Semangun, 2004).
Cercospora canescens memiliki daur hidup yang sama dengan Cercospora cruenta. Konidium dapat tersebar melalui angin, dimana jumlah konidium dapat meningkat pada siang hari akan tetapi mulai menurun pada malam hari (Quebral, 1978). Penyebaran konidium pada musim penghujan dapat menyebar melalui percikan air, disamping itu juga dapat terbawa oleh ternak, alat-alat pertanian, atau pakaian. Infeksi baru akan tampak pada 4-8 hari kemudian (Graham, 1971).
Perkembangan penyakit ini dibantu oleh kelembaban udara, hujan, dan embun. Penyakit ini lebih banyak terdapat pada daerah yang sejuk (20 -24°C) (Graham, 1971).  Penyakit bercak daun mulai muncul pada saat tanaman berumur tiga minggu, kemudian berkembang. Penyebaran penyakit jenis ini dapat melalui angin ataupun serangga, jamur jenis ini menginfeksi tanaman dengan cara penetrasi langsung melalui mulut daun atau sel-sel epidermis (Semangun, 2004).
Intensitas serangan bercak daun meningkat dengan cepat pada waktu polong mulai berisi (Grewal, 1978). Pengamatan intensitas penyakit dilakukan pada saat tanaman berumur 44 hari (Sumartini, 2011).  Di Indonesia dilaporkan intensitas serangan bercak daun yang berkisar antara 34-38%, dapat mengurangi jumlah polong total, polong bernas, jumlah dan berat biji pertanaman sampai 50% (Semangun, 1993).

2.3       Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K. Schum)
Alpinia purpurata K. Schum merupakan tanaman herba berumur panjang yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dan obat-obatan serta tergolong kedalam simplisia rimpang. Berdasarkan warna rimpang, dikenal dua kultivar lengkuas, yaitu lengkuas berimpang putih dan berimpang merah. Lengkuas berimpang merah memiliki batang semu berukuran tinggi 1-1.5 m, diameter batang 1 cm, dan diameter rimpang 2 cm (Wardana et al., 2002).
Rumpun dan bentuk lengkuas merah lebih kecil daripada lengkuas putih. Lengkuas merah juga memiliki serat yang lebih kasar dibandingkan lengkuas putih. Tanaman lengkuas berimpang putih sering dimanfaatkan dalam bidang pangan, sedangkan lengkuas berimpang merah lebih sering digunakan sebagai bahan ramuan obat tradisional (Sinaga, 2009).
Rimpang lengkuas segar mengandung air sebesar 75%, dalam bentuk kering mengandung karbohidrat 22.44%, protein 3.07%, dan senyawa kamferid 0.07% (Darwis et al., 1991). Lengkuas mengandung kurang lebih 1% berwarna kuning kehijauan yang terutama terdiri dari metilsinamat 48%, sineol 20-30%, eugenol, kamfer 1% seskuiterpen, -pinen, galangin, dan lain-lain. Selain itu rimpang juga mengandung senyawa fenol, flavonoid, dan tarponoid (Anonimb, 2011).
Salah satu contoh aplikasi bahan nabati untuk mengendalikan penyakit bercak daun yakni lengkuas. Lengkuas mengandung bahan aktif acetoxy-chavicol acetat. Minyak atsiri dari rimpang lengkuas tersebut dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur seperti Tricophyton rubrum, Trichphyton ajelloi, Trichopyton mentagrophytes, Microsporum gypseum, dan Epidermo floccosum (Sundari et al, 2001).

2.4       Lerak (Sapindus rarak)
Sapindus rarak merupakan tanaman rimba yang tingginya dapat mencapai 42 m dengan diameter batang 1 m. Tanaman ini tumbuh liar di Jawa pada ketinggian antara 450 dan 1500 m diatas permukaan laut. Tanaman ini mempunyai batang berwarna putih kotor. Daun tanaman ini majemuk menyirip ganjil dan anak daun berbentuk lanset. Bunga tanaman ini melekat di pangkal, kuning, dan daun mahkotanya empat. Tanaman ini mempunyai buah yang keras, bulat, diameter kurang kebih 1.5 cm, dan berwarna kuning kecoklatan. Biji tanaman ini tunggang dan berwarna kuning kecoklatan. Buah lerak terdiri dari 73% daging buah dan 27% biji (Anonima, 2011).
Buah lerak mengandung beberapa senyawa seperti senyawa saponin, alkaloid, steroid, dan triterpen dengan besaran kandungannya secara berurutan 12%, 1%, 0.036%, dan 0.029%. Kandungan utama lerak adalah saponin yang berfungsi sebagai detergen. Senyawa saponin berguna sebagai antiinflamasi, antimikroba, antijamur, antivirus, akspektoran, antiulser, perbaikan sintesa protein, stimulasi, dan depresi susunan saraf pusat dan molusida serta sebagai ekspektoran (Anonimc, 2011).
           Saponin merupakan jenis glikosida yang memiliki karaktersitik berupa buih, mudah larut dalam air dan tidak mudah larut dalam eter. Terbentuknya buih tersebut diakibatkan adanya penurunan tegangan permukaan pada cairan. Saponin terbagi kedalam dua kelompok yakni saponin steroid dan saponin triterpenoid. Saponin steroid dihidrolisis menghasilkan satu aglikon yang dikenal sebagai saraponin. Saraponin merupakan tipe saponin yang memiliki efek anti jamur (Prihatman, 2001).

2.5       Fungisida Triadimefon
Triadimefon merupakan fungisida sistemik berspektrum luas yang digunakan untuk mengatasi karat atau powdery mildew (embun tepung) pada sereal, buah, sayur, rumput, semak, dan pohon (United State Environmental Protection Agency, 2006; Salama et al., 1997; Al – Saleh et al., 1999). Namun perlu diketahui bahwa triadimefon dapat menyebabkan toksisitas akut maupun kronis, seperti iritasi mata, iritasi kulit, dan sensitisasi kulit, depresi, hot flush, vaginal dryness, dan menopause dini. Fungisida triadimefon merupakan fungisida sistemik yang memiliki spectrum jangkauan luas, efektif dalam mengontrol Ascomycetes, Basidiomycetes, dan Fungi Imperfecti.
Fungisida triadimefon bekerja dengan proses penyerapan bahan aktif yang mudah oleh tanaman yang kemudian disebarkan keseluruh sistem tanaman. Fungisida ini memberikan perlindungan, efek penyembuhan, serta pemberantasan penyakit dengan cara menghambat dan mengintervensi pertumbuhan mycelium dan pembentukan spora (Rachmad, S., 2011). Di Indonesia, triadimefon digunakan untuk mengatasi penyakit karat dan embun tepung pada tanaman pertanian, perkebunan, dan hortikultura, antara lain kubis, bayam, tomat, selada, terong, brokoli, seledri, jagung, kedelai, serta kacang tanah (Chen et al., 2011; Burhanuddin, 2009; Sudjadi, 2006; Adisarwanto, 2011). 



III. METODOLOGI

3.1       Waktu dan Tempat
Penelitian dengan judul “Pengujian ketahanan kacang hijau terhadap penyakit bercak (Cercospora canescens)” ini dilaksanakan kurang lebih selama dua bulan terhitung dari bulan Februari sampai dengan April 2014, bertempat di Laboratorium Mikologi dan Rumah Kaca, Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Malang di Jalan Raya Kendalpayak Km. 08 Malang.

3.2       Alat dan Bahan
Penelitian ini menggunakan alat - alat sebagai berikut: ember ukuran besar, pinset, kertas label, selang karet, blender, spayer ukuran 2 liter dan 1 liter, wadah tupper wear, gelas ukur, petridish, gunting. Bahan – bahan yang digunakan antara lain sebagai berikut benih kacang hijau varietas malang – 1, furadan, lengkuas, lerak, fungisida triadimefon, Tween 20, aquades.

3.3       Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan didalam rumah kaca (green house) milik Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Malang di Jalan Raya Kendalpayak Km. 08 dengan tujuh perlakuan dan empat kali ulangan. Rancangan Percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Perlakuan yang dimaksud antara lain sebagai berikut :
a.       Ekstrak lengkuas : ekstrak lerak = 90 : 10 = 990 ml: 10 ml
b.      Ekstrak lengkuas : ekstrak lerak = 95 : 5 = 995 ml : 5 ml
c.       Ekstrak lengkuas : ekstrak lerak = 97.5 : 2.5 = 997.5 ml : 2.5 ml
d.      Ekstrak lengkuas murni
e.       Ekstrak lerak murni
f.       Fungisida triadimefon ( 2 cc)
g.      Air (kontrol)

3.4        Parameter Penelitian
Parameter yang di uji saat panen (63 HST) adalah  intensitas serangan bercak Cercospora, tinggi tanaman, jumlah polong, berat brangkasan basah, berat brangkasan kering, berat biji basah, dan berat biji kering.

3.5       Cara Kerja
            Denah pengacakan dan tata letak
4 – IV
2 – I
5 – II
5 – III
2 – III
3 – II
5 – I
4 – II
7 – IV
2 – IV
1 – III
4 – I
2 – II
7 – II
6 – IV
6 – II
7 – III
7 – I
6 – III
1 – I
3 – I
5 – IV
3 – III
3 – IV
1 – IV
5 – I
5 – III
1 - II

Uraian kegiatan
            Berikut uraian kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan:
No.
Uraian Kegiatan
Waktu Pelaksanaan (Februari - April)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
1.
Penanaman













2.
Inokulasi penyakit













3.
Aplikasi perlakuan I













4.
Aplikasi perlakuan II













5.
Aplikasi perlakuan III













6.
Aplikasi perlakuan IV













7.
Aplikasi perlakuan V













8.
Scoring intensitas penyakit













9.
Panen














Penanaman kacang hijau
Teknik penanaman kacang hijau dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.       Disiapkan ember yang berisi tanah kemudian disirami air hingga kapasitas lapang.
b.   Dibuat lubang tanam sedalam 1-2 cm sebanyak 4 lubang dalam satu ember dengan jarak perempat bagian mulut ember.
c.       Ditanam benih kacang hijau varietas vima – 1 dengan masing-masing 2 biji perlubang tanam.
d.      Ditutup lubang tanam yang telah terisi dua biji benih kacang hijau varietas vima – 1 dengan tanah.
e.       Dibuat sebuah lubang tepat ditengah ember sedalam 1-2 cm.
f.     Dimasukkan fungisida furadan dengan dosis mikro kedalam lubang yang baru dibuat kemudian ditutup tanah.
g.      Penanaman selesai dilaksanakan.

Inokulasi Penyakit Bercak (Cercospora canescens)
Cara penularan penyakit bercak Cercospora (inokulasi) pada tanaman kacang hijau adalah sebagai berikut:
a.   Dipotong daun tanaman kacang hijau yang terindikasi berpenyakit bercak Cercospora pada tanaman inang menggunakan gunting.
b.  Dipotong bagian daun yang terkena penyakit bercak daun (mata bercak Cercospora), kemudian dipisahkan dari bagian daun yang tidak berpenyakit.
c.       Ditakar air aquades sebanyak 1 liter menggunakan gelas ukur.
d.      Disiapkan satu buah blender.
e.       Dimasukkan potongan-potongan daun berbercak Cercospora kedalam blender.
f.  Dituang 1 liter aquades kedalam blender yang telah berisi potongan-potongan daun berbercak Cercospora.
g.      Diblender campuran 1 liter aquades dan potongan-potongan daun berbercak Cercospora hingga halus.
h.      Dikeluarkan ekstrak yang telah halus dari dalam blender
i.        Ditambahkan Tween 20 sebanyak 3 tetes menggunakan pipet tetes kedalam ekstrak.
j.        Dimasukkan ekstrak kedalam sprayer khusus inokulasi spora ukuran 2 liter.
k.      Ekstrak siap untuk diinokulasikan.
l.     Disemprotkan ekstrak pada seluruh permukaan tubuh tanaman tidak terkecuali hingga bagian bawah daun, disarankan penyemprotan dilakukan pada sore hari.
m.    Tanaman yang telah di semprot ekstrak tersebut kemudian di inkubasi selama satu malam menggunakan plastik transparan.
n.      Proses inokulasi telah selesai dilaksanakan.

Perlakuan
Persiapan Bahan Ekstraksi Lengkuas Merah
a.       Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
b.      Ditakar 1 liter air bersih menggunakan gelas ukur ukuran 1000 ml.
c.       Dicuci rimpang lengkuas merah dan dibersihkan dari kotoran-kotoran.
d.      Dikupas rimpang lengkuas sebanyak 50 gram kemudian diiris tipis-tipis.
e.       Disiapkan blender kemudian dimasukkan potongan rimpang lengkuas merah sebanyak 50 gram.
f.       Ditambahkan air sebanyak 1 liter kedalam blender kemudian diblender hingga halus.
g.   Dikeluarkan ekstrak lengkuas dari dalam blender kemudian dimasukkan kedalam wadah penampung (tupper wear) kemudian ditutup dan diinkubasikan selama satu malam.
h.      Di ulang sebanyak 4 kali, hingga mendapatkan total ekstrak lengkuas merah sebanyak 200 gram  per 4 liter yang terbagi kedalam empat wadah.

Persiapan Bahan Ekstraksi Lerak
a.       Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
b.      Ditakar 1 liter air bersih menggunakan gelas ukur ukuran 1000 ml.
c.       Dicuci buah lerak dan dibersihkan dari kotoran-kotoran.
d.      Ditimbang 10 gram buah lerak untuk 1 liter air menggunakan timbangan digital.
e.       Dikupas buah lerak sebanyak 10 gram kemudian diiris tipis-tipis.
f.       Dimasukkan irisan lerak ke dalam wadah.
g.      Ditambahkan air aquades ke dalam wadah berisi irisan lerak sebanyak 2 liter per 20 gram lerak.
h.      Di ulang sebanyak 2 kali, hingga mendapatkan total ekstrak lerak sebanyak 20 gram  per 2 liter yang terbagi kedalam dua wadah.
i.        Ekstrak yang sudah didapatkan diinkubasi selama satu malam sebelum disaring dan digunakan.
           
Perlakuan I. Ekstrak Lengkuas (5%) : Ekstrak Lerak (1%) = 90 : 10
            Cara pembuatan ekstrak untuk perlakuan pertama adalah sebagai berikut:
a.       Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
b.      Diambil satu wadah berisi ekstrak lengkuas sebanyak 50 gram per liter kemudian disaring menggunakan penyaring teh dan kain perca, lalu didiamkan.
c.   Diambil satu wadah berisi ekstrak lerak sebanyak 10 gram per liter kemudian disaring menggunakan penyaring teh dan kain perca, lalu didiamkan.
d.      Diambil ekstrak lengkuas merah sebanyak 10 ml menggunakan gelas ukur
e.       Diambil ekstrak lerak sebanyak 10 ml menggunakan gelas ukur kemudian ditambahkan ke wadah berisi ekstrak lengkuas yang telah dikurangi sebanyak 10 ml ekstrak lengkuas.
f.   Dimasukkan ekstrak lengkuas merah (5%) : ekstrak lerak (1%) = 990 ml ekstrak lengkuas merah, kemudian ditambahkan 10 ml ekstrak lerak kedalam sprayer pertama
g.      Sprayer berisi perlakuan pertama siap digunakan.

Perlakuan II. Ekstrak Lengkuas (5%) : Ekstrak Lerak (1%) = 95 : 5
         Cara pembuatan ekstrak untuk perlakuan kedua adalah sebagai berikut:
a.          Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
b.         Diambil satu wadah berisi ekstrak lengkuas sebanyak 50 gram per liter kemudian disaring menggunakan penyaring teh dan kain perca, lalu didiamkan.
c.     Diambil satu wadah berisi ekstrak lerak sebanyak 10 gram per liter kemudian disaring menggunakan penyaring teh dan kain perca, lalu didiamkan.
d.         Diambil ekstrak lengkuas merah sebanyak 10 ml menggunakan gelas ukur
e.          Diambil ekstrak lerak sebanyak 10 ml menggunakan gelas ukur kemudian ditambahkan ke wadah berisi ekstrak lengkuas yang telah dikurang sebanyak 10 ml ekstrak lengkuas.
f.       Dimasukkan ekstrak lengkuas merah (5%) : ekstrak lerak (1%) = 995 ml ekstrak lengkuas merah  ditambah 5 ml ekstrak lerak kedalam sprayer kedua
g.            Sprayer berisi perlakuan kedua siap digunakan.

Perlakuan III. Ekstrak lengkuas (5%) : Ekstrak Lerak (1%) = 97.5 : 2.5
Cara pembuatan ekstrak untuk perlakuan ketiga adalah sebagai berikut:
a.         Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
b.         Diambil satu wadah berisi ekstrak lengkuas sebanyak 50 gram per liter kemudian disaring menggunakan penyaring teh dan kain perca, lalu didiamkan.
c.     Diambil satu wadah berisi ekstrak lerak sebanyak 10 gram per liter kemudian disaring menggunakan penyaring teh dan kain perca, lalu didiamkan.
d.         Diambil ekstrak lengkuas merah sebanyak 2.5 ml menggunakan pipet ukur
e.        Diambil ekstrak lerak sebanyak 2.5 ml menggunakan gelas ukur kemudian ditambahkan ke wadah berisi ekstrak lengkuas yang telah dikurang sebanyak 2.5 ml ekstrak lengkuas.
f.    Dimasukkan ekstrak lengkuas merah (5%) : ekstrak lerak (1%) = 997.5 ml ekstrak lengkuas merah ditambah 2.5 ml ekstrak lerak kedalam sprayer ketiga
g.       Sprayer berisi perlakuan ketiga siap digunakan.

Perlakuan IV. Ekstrak Lengkuas (5%)
Cara pembuatan ekstrak untuk perlakuan keempat adalah sebagai berikut:
a.             Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
b.         Diambil satu wadah berisi ekstrak lengkuas sebanyak 50 gram per liter kemudian disaring menggunakan penyaring teh dan kain perca, lalu didiamkan.
c.             Dimasukkan ekstrak lengkuas merah (5%) ekstrak lerak kedalam sprayer keempat
d.            Sprayer berisi perlakuan keempat siap digunakan.

Perlakuan V. Ekstrak lengkuas (1%)
Cara pembuatan ekstrak untuk perlakuan kelima adalah sebagai berikut:
a.             Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
b.            Diambil satu wadah berisi ekstrak lerak sebanyak 10 gram per liter kemudian disaring menggunakan penyaring teh dan kain perca, lalu didiamkan.
c.             Dimasukkan ekstrak lerak (1%) ekstrak lerak kedalam sprayer kelima.
d.            Sprayer berisi perlakuan kelima siap digunakan.

Perlakuan VI. Fungisida Triadimefon
Cara pembuatan ekstrak untuk perlakuan keenam adalah sebagai berikut:
a.             Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
b.            Ditakat air sebanyak 1 liter.
c.             Diambil cairan fungisida triadimefon menggunakan pipet ukur sebanyak 1 cc per liter air.
d.            Dicampurkan dan diaduk air 1 liter dengan 1 cc fungisida triadimefon.
e.             Sprayer berisi perlakuan keenam siap digunakan.

Perlakuan VII. Air
Cara pembuatan perlakuan ketujuh adalah sebagai berikut:
a.             Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
b.            Ditakar air sebanyak 1 liter.
c.             Dimasukkan air kedalam sprayer ketujuh.
d.            Sprayer berisi perlakuan ketujuh siap digunakan.



IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1       Hasil
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan lengkuas dalam berbagai dosis terbukti mampu menekan laju perkembangan jamur Cercospora canescens yang menjadi penyebab penyakit bercak daun pada tanaman kacang hijau. Intensitas serangan terendah diperoleh pada sampel dengan perlakuan kombinasi antara lengkuas dan lerak dengan perbandingan 95 : 5 (perlakuan 2) sebesar 15.19%, sedangkan intensitas serangan tertinggi didapatkan pada sampel tanaman tanpa perlakuan (kontrol) yang mencapai angka 35.92% (Tabel 1).




Intensitas serangan terendah kedua didapatkan pada sampel dengan perlakuan fungisida triadimefon sebesar 18.75%, sedangkan sampel dengan perlakuan lerak 100% (perlakuan 6) menempati urutan kedua intensitas serangan tertinggi yakni sebesar 25.56%, sedangkan perlakuan kombinasi antara lengkuas dengan lerak lainya dinyatakan tidak berbeda nyata secara statistik meskipun dapat menekan laju infeksi penyakit bercak (Tabel 1).


Berbeda dengan hasil analisis intensitas serangan yang menunjukkan hasil signifikan, parameter-parameter pendukung lainnya seperti tinggi tanaman sewaktu panen, jumlah polong, berat polong, berat brangkasan kering, berat brangkasan basah, berat polong basah, berat polong kering, dan berat biji kering menunjukkan hasil tidak berbeda nyata. Parameter berat biji kering pada perlakuan lengkuas murni, lerak murni, kombinasi lengkuas : lerak, dan fungisida triadimefon dinyatakan lebih baik dibandingkan kontrol meskipun dinyatakan tidak berbeda nyata secara statistik. Perlakuan lengkuas (995 ml) : lerak (5 ml) dinyatakan lebih baik dibandingkan perlakuan yang lain, terdapat selisih 6.35 cm dibandingkan kontrol pada parameter tinggi tanaman meskipun dinyatakan tidak berbeda nyata secara statistik (Tabel 2).
Perlakuan lengkuas dan lerak dengan konsentrasi 995 ml dan 5 ml memberikan hasil yang lebih baik meskipun secara statistik dinyatakan tidak berbeda nyata dibandingkan perlakuan lainnya pada parameter jumlah polong, dan berat polong basah. Perlakuan fungisida triadimefon memberikan hasil yang lebih baik pada parameter berat brangkasan basah dan berat brangkasan kering, akan tetapi juga dinyatakan tidak berbeda nyata secara statistik (Tabel 2).

4.2       Pembahasan
Penyakit tanaman merupakan hasil interaksi antara beberapa faktor seperti patogen, inang, serta lingkungan sekitar yang dikenal dengan segitiga penyakit (disease triangle). Alam memiliki mekanisme keseimbangan yang dapat mencegah terjadinya ledakan penyakit, adanya campur tangan manusia melalui penerapan teknologi seringkali mengakibatkan terganggunya keseimbangan alam dan menimbulkan ledakan penyakit yang serius. Komponen keempat yaitu manusia yang berinteraksi dengan ketiga komponen penyakit tersebut yang dikenal dengan segi empat penyakit (disease square) (Nasir Saleh, 2010).
Penyakit bercak daun merupakan penyakit yang menempati urutan kedua setelah penyakit embun tepung yang tergolong sebagai penyakit yang berpengaruh besar terhadap penurunan hasil tanaman kacang hijau. Penyakit ini disebabkan oleh dua jenis cendawan yakni Cercospora canescens dan Cercospora cruenta, akan tetapi di lapangan C. canescens lebih banyak ditemukan (Semangun, 1991).   
Penyakit jenis ini menginfeksi tanaman melalui beberapa cara antara lain dengan cara penetrasi langsung melalui mulut daun atau sel – sel epidermis (Semangun, 2006). Jamur ini membentuk konidium berwarna coklat kehijauan pada permukaan daun bagian atas dan bawah, warna tersebut sama dengan warna konidifor yang dibentuk dan mempunyai konidium seperti jarum, hialin, pangkalnya terpotong, ujungnya runcing dan terdiri dari banyak sekat. Jamur ini menyebar karena pengaruh angin atau juga serangga dan pada musim hujan konidium terbawa oleh percikan air ke daun yang sehat kemudian jamur ini menginfeksi tanaman.
Gejala awal tanaman yang terserang penyakit bercak daun pada mulanya timbul bercak kecil yang berwarna kecoklatan dengan bentuk tidak teratur pada bagian daun yang kemudian melebar. Beberapa bercak dapat menjadi satu, sehingga membentuk bercak yang lebih besar. Bagian tengah bercak menjadi berwarna putih yang merupakan kumpulan spora dari cendawan penyebab penyakit. Serangan bercak daun lebih banyak terjadi pada fase generatif (Nuryanto et al., 1993).
Menurut Yudiwanti et al. (1998) penyakit bercak daun berkembang pada pertanaman setelah polong terbentuk. Oleh karena itu, pengaruh penyakit ini terhadap pengurangan hasil lebih diakibatkan oleh pengaruhnya terhadap pengurangan kemampuan tanaman dalam pengisian polong, bukan terhadap pengurangan jumlah polong. Di lain pihak, karena polong terbentuk sebelum penyakit berkembang pada tanaman, maka jumlahnya kurang dipengaruhi oleh serangan patogen. Oleh karena itu, karakter jumlah polong total lebih mencerminkan potensi genetik daya hasil genotipe yang berkaitan dengan penyakit bercak daun.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan lengkuas dengan sembarang frekuensi dapat menekan laju infeksi penyakit bercak Cercospora, disamping itu secara visual prosentase serangan penyakit bercak berkorelasi positif dengan berat biji kering meskipun dinyatakan tidak berbeda nyata secara statistika. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 1 dimana sampel tanaman dengan sembarang perlakuan menghasilkan berat biji kering yang lebih baik dibandingkan kontrol. Keadaan tersebut diduga disebabkan oleh aktivitas cendawan Cercospora yang menginfeksi tanaman menyebabkan terganggunya aktivitas metabolisme tanaman.
Bagian tanaman yang terinfeksi oleh cendawan Cercospora canescens biasanya berupa daun tanaman yang merupakan pusat terjadinya proses fotosintesis. Daun tanaman yang terinfeksi penyakit bercak akan mengalami kerusakan fisiologis yang menyebabkan terganggunya proses-proses metabolisme tanaman seperti fotosintesis, respirasi, transpirasi, dan lain sebagainya. Terganggunya proses-proses metabolisme tanaman akan menyebabkan terganggunya proses pendistribusian nutrisi tanaman ke seluruh bagian tanaman. Hal tersebut diduga menjadi penyebab berkurangnya kemampuan tanaman dalam melakukan proses pengisian polong yang kemudian menjadi indikator rendahnya berat biji kering.
Pada tingkat serangan yang berat, penyakit bercak dapat menyebabkan daun menjadi kering dan rontok sehingga dapat menyebabkan kehilangan hasil yang besar. Tingkat kehilangan hasil ini berkorelasi positif dengan intensitas serangan dan defoliasi daun. Selain kehilangan hasil, penyakit karat dan bercak daun juga dapat menurunkan kualitas biji. Sumartini (2011) mengemukakan bahwa pada berat 100 biji, berat kering brangkasan, tinggi tanaman, jumlah polong isi, jumlah polong hampa, dan berat kering biji per plot dan jumlah tanaman dipanen meski secara statistik tidak nyata namun terdapat kecendrungan bahwa berat kering biji per plot lebih tinggi daripada plot tanpa perlakuan lengkuas, yaitu sebesar 0,436 kg. Secara visual polong – polong kacang hijau pada plot yang diberi perlakuan lengkuas lebih besar daripada tanpa perlakuan lengkuas. Hal ini terbukti bahwa diameter polong pada kelompok panjang sebesar 0,667 cm berbeda secara nyata dengan 0,633 cm.
Penyakit bercak daun dapat dikendalikan dengan berbagai cara antara lain rotasi tanaman, pemotongan bagian tanaman yang terinfeksi, hingga pengunaan pestisida kimia dan nabati. Perlakuan lengkuas, lerak, kombinasi lengkuas dan lerak, dan fungsida triadimefon terbukti berpengaruh nyata dalam menekan intensitas serangan cendawan Cercospora canescens, akan tetapi secara statistik tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.
Harris (1990) menyatakan bahwa rimpang lengkuas mengandung beberapa senyawa kimia seperti sineol, kamfor, serta metil cinamat  yang berperan sebagai bahan antibiotik. Sumber lain mengatakan bahwa rimpang lengkuas segar mengandung fenol, flavonoid, dan tarponoid yang bersifat fungitoksik. Senyawa fenolik merupakan senyawa yang bersifat fungistatik yang dapat mendenaturasi protein dinding jamur yang menyebabkan kerapuhan pada dinding sel tersebut sehingga mudah ditembus zak aktif lainnya yang bersifat fungistatik. Jika protein yang terdenaturasi adalah protein enzim maka enzim tidak dapat bekerja yang menyebabkan metabolisme dan proses penyerapan terganggu.
Zat aktif anti jamur yang lainnya adalah asetoksi kavikol asetat yang merupakan senyawa minyak atsiri (Sundari, D dan Winarno, M. W, 2001). Kandungan bahan aktif seperti sineol, kamfor, serta metil cinamat yang berperan sebagai antibiotik pada ekstrak lengkuas dapat menekan infeksi cendawan Cercospora canescens (Harris, 1990). Menurut Phabiola (2004) senyawa fenolik seperti cineol, galangol, dan flavonoid bersifat sebagai fungitoksik sehingga dapat menghambat germinasi dan penetrasi jamur ke dalam jaringan tubuh tanaman. Bahan anti jamur lainnya yang dapat menekan infeksi cendawan Cercospora antara lain saraponin yang merupakan turunan dari saponin yang dikandung oleh buah lerak (Prihatman, 2001).
Perlakuan kombinasi lengkuas : lerak  dengan perbandingan 90 : 10, 97.5 : 2.5, dan lengkuas murni menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan fungisida triadimefon, sehingga perlakuan lengkuas murni serta kombinasi lengkuas : lerak tersebut mampu menggantikan fungsi fungisida triadimefon dalam mengendalikan penyakit bercak daun Cercospora pada kacang hijau. Fungisida triadimefon merupakan bahan kimia yang memiliki potensi memiliki efek toksik kumulatif yang rendah terhadap tanaman tetapi memiliki efek toksik yang tinggi terhadap manusia sehingga berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Triadimefon termasuk kedalam kelompok pestisida triazoles (conazoles) dan juga mencakup pestisida Propiconazole. Fungisida triazole memiliki unsur senyawa 1,2,4 – triazole, alanintriazole, dan asam asetat triazole. Triadimenol merupakan metabolit dari Triadimefon yang bersifat toleran terhadap tanaman (Edwards, 2006).
Penyakit bercak daun Cercospora canescens disamping dapat dikendalikan melalui pestisida nabati juga dapat dikendalikan menggunakan penanaman varietas unggul toleran. Yudiwanti (2006) mengemukakan bahwa adanya korelasi negatif pada varietas unggul melalui peran antagonis stomata terhadap daya hasil dan terhadap tingkat ketahanan terhadap penyakit bercak daun. Stomata yang membuka sempit dengan kerapatan rendah mendukung tingkat ketahanan terhadap penyakit bercak daun karena dapat menurunkan peluang penetrasi patogen melalui stomata, akan tetapi karakter yang sama mengurangi difusi karbondioksida ke dalam daun sehingga kapasitas fotosintesis berkurang dan akibatnya daya hasilnya lebih rendah.
Penggunaan pestisida nabati dalam mengendalikan penyakit tanaman memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pestisida kimiawi antara lain mudah dan murah dalam proses pembuatannya, tidak berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan, serta tidak menimbulkan resistensi penyakit. Dalam rangka mewujudkan pertanian yang sehat, berkelanjutan, serta ramah lingkungan, penggunaan pestisida nabati lebih dianjurkan dalam usaha pengendalian hama dan penyakit tanaman.


DAFTAR PUSTAKA


Adisarwanto, T. 2011. Strategi peningkatan produksi kedelai sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri dan mengurangi impor. Pengembangan Inovasi Pertanian 3(4) : 319 – 331.

Al-Saleh, I., Al – Doush., A. Echeverria, Q. 1999. Residues of pesticide in grains locally grown in Saudi Arabia. Bulletin Environmental Contamination and Toxicology. Springer-Verlag New York Inc., 63 ; 451-459.

Anonima. 2011. Tinjauan Pustaka Buah Lerak (Online). http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/4/Chapter%2011.pdf. Diakses 07 Maret 2014.

Anonimb. 2012. Kandungan Fitokimia Lengkuas (Online). http://library.upnvj.ac.id/pdf/5FKS1KEDOKTERAN/0810211147/BAB%2011.pdf. Diakses 07 Maret 2014.

Anonimc. 2011. Penyakit pada pertanaman kacang hijau (Online). http://www.emakalah.com/2013/01/penyakit-pada-pertanaman-kacang-hijau.html. Diakses pada 8 Oktober 2014.

Asian Vegetable Research and Vegetable Centre. 2005. Powdery mildew and Cercospora leaf spot of mungbean. http://www.avrdc.org/L.C/mungbean/production/disease. Diakses pada 8 Oktober 2014.

Atman. 2007. Teknologi Budidaya Kacang Hijau (Vigna radiata L.) di lahan sawah. Jurnal Ilmiah Tambua VI: 89-95.

Atman. 2009. Teknologi Budidaya Kacang Hijau (Vigna radiata L.) di Lahan Sawah. ISSN 1412-5838, hlm 92.

Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. 2005. Teknologi Produksi Kacang-kacan-gan dan umbi-umbian. Malang.

Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2014. Deskripsi kacang hijau varietas Vima – 1 (Online). http://puslittan.bogor.net/index.php?bawaan=varietas/varietas_detail&komoditas=05027&id=vima%20-/201&pg=1&varietas=1. Diakses 07 Maret 2014.


Burhanuddin, 2009. Penyakit karat Puccinia polysora Underw (Uridinales:Pucciniaceae) pada tanaman jagung dan pengendaliannya. Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVIII Komda Sul-sel, hal. 281-289.

Chen, C.. Qian, Y., Chen. Q., Tao, C., Li, C., and Li, Y. 2011. Evaluation of pesticide residues in fruits dan vegetables from Xiamen, China. Food Control, No. 22, p. 1114-20.

Darwis, S. N., Abd. Madjindo, dan Hasiyah. 1991. Tanaman Obat Famili Zingeberasceae. Pusat Penelitian Tanaman Industri, Bogor.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat. 2013. Strategi Pengelolaan Produksi Kacang Hijau (Online). http://www.diperta.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/1694. Diakses 07 Maret 2014.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa barat. 2013. Budidaya Kacang Hijau (Online). http://diperta.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/170. Diakses 07 Maret 2014.

Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi. 2012. Kacang Hijau (Online). http://www.academia.edu/5183662/Kementrian. Diakses 07 Maret 2014.

Edwards, D. 2006. Triadimefon And Tolerance Reassessment For Triadimenol. Page: 2-3. United States Environmental Protection Agency.

Fachrudin, Lisdiana. 2000. Budidaya Kacang – kacangan. Yogyakarta. Kanisius.

Ginting, C., D.R.J. Sembodo, H. Susanto, dan M. Prama Yudi. 1999. Kemampuan beberapa tepung tumbuhan dalam menekan pertumbuhan Phytoptora capsici dari tanaman lada. Hal : 512 – 518. Dalam. Soedarmono  (Penyunting). Prosiding Kongres Nasional XV dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Teknologi Industri Pertanian Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Graham, K. M. 1971.  Plant disease of Fiji. Min. Overseas Dev., Overseas Res. Public. 17, 250 p.

Grewal, J.S. 1978. Diseases of mungbean in India. In. The First International Mungbean Symposium August 16-19, 1977 at the University of the Philippines at Los Banos. p: 165-168.

Harris, R. 1990. Tanaman Minyak Atsiri. Cetakan ke III. Penebar Swadaya. Jakarta. 172 hlm.

Hartono, Rudi. Purwono. 2005. Kacang Hijau. Jakarta. Penebar Swadaya.

Hilman, Y. A. Kasno, dan N. Saleh. 2004. Kacang-kacangan dan umbi-umbian: Kontribusi terhadap ketahanan pangan dan perkembangan teknologinya. Dalam Makarim, et al. (penyunting). Inovasi Pertanian Tanaman Pangan. Puslitbangtan Bogor; 95-132 hlm.

Kasno, A. 1986. Pendugaan Parameter Genetik dan Parameter Stabilitas Hasil dan Komponen Hasil Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.). Disertasi Doktor. Fakultas Pascasarjana IPB. Bogor.

Kusumo, Yudiwanti W.E. 1991. Pendugaan Parameter Genetik Beberapa Karakter Kuantitatif Kacang Tanah. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Kusumo, Yudiwanti W.E. 1996. Analisis Genotipik Ketahanan Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) terhadap Penyakit Bercak Daun Hitam Disebabkan oleh Phaeoisariopsis personata (Berk. & Curt.) v. Arx. Disertasi Doktor. Program Pascasarjana IPB. Bogor. 126 hlm.

Lanang, Selaparang. 2013. Budidaya Kacang Hijau (Online). http://selaparanglanang.blogspot.com/2013/04/budidaya-kacang-hijau.html. Diakses 07 Maret 2014

Malau, Srihandriatmo. 2012. Kebutuhan Kedelai Nasional 2013 Tembus 2,2 Juta Ton (On-line). http://www.tribunnews.com/bisnis/2012/10/15/kebutuhan-kedelai-nasional-2013-tembus-22-juta-ton.html. 04 Februari 2014.

Meason, L. J. G. Van der & S. Somaatmadja (Eds). 1992. Plant-resources of South-East Asia: Pulses (Vol. 1). Wageningen, the Netherlands: Pudoc.

Nuryanto, B., Suparyono, dan Sudir. 1993. Periode kritis kacang hijau terhadap penyakit bercak daun (Cercospora canescens). Hal. 587 – 594. Dalam Risalah Kongres dam Seminar Ilmiah Nasional XII Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Yogyakarta.

Phabiola, T. A. 2004. Penggunaan Ekstrak Beberapa Jenis Tumbuhan untuk Mengendalikan Penyakit Layu Pisang pada Pembibitan dari Bonggol. Tesis. Program Magister Program Studi Bioteknologi Universitas Udayana. 46 hal.

Prihatman, K. 2001. Saponin untuk Pembasmi Hama Udang. Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian Perkebunan Gambung, Bandung.

Quebral, F. C. 1978. Powdery mildew and Cercospora leaf spot of mungbean in the Philippines. Proc. Internat. Mungbean Symp. I, AVRDC : 147-153.

Rachmad, S. 2011. Efek samping fungisida golongan Azole (Online). http://blajartani.blogspot.com/2011/04/efek-samping-fungisida-golongan-azole. diakses pada 11 Oktober 2014.

Rukmana, R. 1997. Kacang Hijau Budidaya dan Pasca Panen. Kanisius. Yogyakarta.

Salama, A.K., Al – Rokaibah, A.A., Al-Ghomiz, N.M., and Soliman, S.A., 1997. Persistence of triadimefon residue in vegetable frui grown in green house: A study demonstrating Arabia. J. King Saud Univ.

Saleh, Nasir. 2010. Optimalisasi Pengendalian Terpadu Penyakit Bercak Daun dan Karat Pada Kacang Tanah. Hal: 289 – 305. Malang.

Semangun, H. 1991. Penyakit – penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Semangun, H. 1993. Penyakit – penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Hal 42 - 48.

Semangun, H. 2004. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Semangun, H. 2006. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sinaga, E., 2009. Dalam Skripsi berjudul Pemanfaatan Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K. Schum) Sebagai bahan antijamur dalam Sampo. Oleh Rini Budiarti, 2007. Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Sudjadi, M., dan Supriyati, Y., 2006. Perbaikan Teknologi Produksi Kacang Tanah di Indonesia. Buletin Agrobio 4(2):62-68.

Sumartini. Semnas Pestisida Nabati IV, Jakarta, 15 Oktober 2011, Pengendalian penyakit bercak daun dengan lengkuas.

Sunantara, I. M. M., 2000. Teknik Produksi Benih Kacang Hijau. No. Agdex : 142/35. No. Seri: 03/ Tanaman/ 2000/ September 2000. Instalasai Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Denpasar Bali.

Sunantara, I.M.M. 2000. Teknik produksi benih kacang hijau. No. Agdex: 142/35. No. Seri: 03/Tanaman/2000/September 2000. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Denpasar Bali. Wardana, et. al., 2002. Dalam Skripsi berjudul Pemanfaatan Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K. Schum) sebagai bahan anti jamur dalam shampo. Oleh Rini Budiarti, 2007.  

Sundari, D., dan Winarno, M.W. 2001. Informasi Tumbuhan Sebagai Anti Jamur. Departemen Kesehatan RI. Jakarta

United States Environmental Protection Agency, EPA. 2006. An Introduction to Environmental Accounting as a Business Tools: Key Concept and  Terms. USA. EPA.

Wardana, et. al., 2002. Dalam Skripsi berjudul Pemanfaatan Lengkuas Merah (Alpinia Purpurata K. Schum) Sebagai Bahan Antijamur dalam Sampo. Oleh Rini Budiarti, 2007. Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Yudiwanti, S. Sastrosumarjo, S. Hadi, S. Karama, A. Surkati, dan A.A. Mattjik. 1998. Korelasi genotipik antara hasil dengan tingkat ketahanan terhadap penyakit bercak daun hitam pada kacang tanah. Bull. Agron. 26(1):16-21.

Yudiwanti. 2006. Pengaruh antagonis stomata terhadap ketahanan pada penyakit bercak daun dan daya hasil pada kacang tanah. Prosiding Seminar Nasional Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman, 1-2 Agustus 2006. Hal. 329 – 334.

Yudiwanti, B. Wirawan, dan D. Wirnas. 2006. Korelasi antara kandungan klorofil, ketahanan terhadap penyakit bercak daun dan daya hasil pada kacang tanah. Prosiding Seminar Nasional Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman, 1-2 Agustus 2006. Hal. 316 – 319.


Komentar

Postingan populer dari blog ini