PROSEDUR
EVALUASI LAHAN
1. Prosedur Evaluasi Lahan
Prosedur yang akan dibahas merupakan serangkaian langkah – langkah yang harus dilakukan dalam melakukan pekerjaan evaluasi lahan yang dipengaruhi oleh cara pendekatannya. Pendekatan paralel memiliki prosedur yang berbeda dengan pendekatan bertahap. Tahapan pekerjaan evaluasi yang dilakukan antara lain 1) tahap konsultasi pendahuluan, 2) survey lapangan, 3) matching, 4) analisis ekonomi, 5) penetapan tipe penggunaan lahan terbaik, 6) pembuatan laporan dan peta.
1.1 Tahap Konsultasi Pendahuluan
Tahap ini dilakukan serangkaian kegiatan semacam konsultasi dengan narasumber yang benar-benar mengetahui kondisi lahan tersebut, narasumber sendiri dapat berasal dari pejabat setempat, pemilik lahan, dan lainya. Data yang diperlukan adalah data kualitas lahan secara fisik maupun data sosial ekonomi dan politik. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain : arah perubahan tata guna lahan (tujuan evaluasi), jenis data dan informasi yang diperlukan, lokasi dan batas wilayah studi, macam-macam penggunaan lahan yang ada, cara pendekatan yang akan digunakan, skala pekerjaan evaluasi lahan dan metodologinya. Asumsi tentang tipe-tipe penggunaan lahan ditetapkan oleh tim yang telah berpengalaman, disamping itu pekerjaan evaluasi lahan tidak akan dilakukan sebelum tujuan evaluasi ditetapkan, dengan ditetapkannya arah evaluasi lahan misalnya untuk lahan perkebunan atau industri, pekerjaan evaluasi sudah dapat direncanakan
1.2 Survei Lapangan
Data dan informasi karakteristik lahan dapat diperoleh melalui survey lapangan atau data sekunder, baik dalam bentuk laporan maupun peta. Keakuratan data yang diperoleh akan menentukan keberhasilan pekerjaan evaluasi lahan. Hasil survey lapangan berupa data yang belum dianalisis dengan kepentingan pekerjaan evaluasi lahan, seperti data karakteristik lahan dalam bentuk deskripsi profil, data sifat fisik dan kimia tanah, data curah hujan, dan lain-lain biasanya terkumpul dalam laporan hasil survey lapangan atau kumpulan data hasil pengamatan secara rutin.
1.3 Matching
Matching adalah penyesuaian antara data dan informasi karakteristik lahan yang sudah dianalisis atau diolah sesuai dengan keperluan evaluasi lahan dengan persyaratan lahan. Kelas dan sub kelas kesesuaian lahan yang digunakan dari hasil matching adalah kelas yang paling rendah.
1.4 Analisis Sosial Ekonomi
Tahap ini merupakan tahap dimana dilakukan analisis tipe penggunaan lahan hasil evaluasi secara fisik berpotensi memberikan keuntungan dan dapat menyerap tenaga kerja dengan maksimal ataukah tidak. Jika hasil yang diperoleh menunjukkan hasil yang positif maka tipe penggunaan lahan tersebut dapat dipilih sebagai tipe penggunaan lahan terbaik, begitu juga sebaliknya.
1.5 Penyusunan Tipe Penggunaan Lahan Terbaik
Setelah memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai aspek dalam pekerjaan evaluasi lahan, maka perlu dilakukan penyusunan tipe penggunaan lahan terbaik menggunakan sistem klasifikasi kesesuaian lahan yang tersedia. Tipe – tipe penggunaan lahan yang akan ditawarkan disusun dalam bentuk laporan yang dilengkapi dengan tabel dan peta.
1.6 Pembuatan Laporan dan Peta
Akhir pekerjaan evaluasi lahan adalah penyusunan laporan yang dilengkapi dengan peta. Format penyusunan laporan pekerjaan evaluasi lahan berbeda – beda tetapi pada prinsipnya memuat bab Latar Belakang, Metodologi, Uraian Satuan Peta Lahan, Uraian Tipe Penggunaan Lahan yang ditawarkan, Tipe penggunaan Lahan Terbaik, Kesimpulan yang dilengkapi dengan peta – peta yang terkait.
2. Analisis dan Pengelompokkan Data
2.1 Analisis Data
Data dan informasi karakteristik lahan diperoleh dari berbagai sumber antara lain (1) data sekunder, (2) laporan penelitian/studi, (3) pengamatan lapang, (4) hasil analisis laboratorium. Data sekunder karakteristik lahan dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti lembaga pengumpul data (data iklim, kantor statistik, kantor pertanahan, dan lain-lain), peta (jenis tanah, iklim, rupa bumi, geologi, irigasi, topografi, bentuk lahan, dan lain-lain). Data dan informasi tersebut bentuknya bermacam – macam dan sering kali memerlukan analisis dan asumsi – asumsi lebih lanjut, agar dapat digunakan untuk keperluan pekerjaan evaluasi lahan. Sebagai contoh data informasi karakteristik lahan dalam bentuk data skripsi profil yang dilengkapi dengan hasil analisis sifat fisik serta kimia tanah, memerlukan analisis lebih lanjut.
Tabel 1. Contoh deskripsi profil tanah
Pedon No. KK 25
Klasifikasi
LPT – Bogor : Melanic – Vitric Andosol
FAO : Humic – Vitric Andosol
Taxonomy : Umbric Vitrandept
Lokasi : Desa Ngantru, Pujon. Kab. Malang
Fisiografi : colluvial kakibukit
Topografi : berbukit (15 – 30 %)
Drainase : sangat baik
Erosi : sedang
Vegetasi : mahoni dan rumput
Bahan induk tanah : abu vulkanik
2.2 Pengelompokkan Data
Data karakteristik lahan dapat berbentuk nilai kuantitatif atau kualitatif, jika data yang ada berbentuk kuantitatif seringkali perlu dirubah ke data kualitatif dengan asumsi tertentu, misalnya derajat kemasaman tanah menunjukkan pH 7.0 ini dapat diartikan nilai kemasaman tanah berada pada derajat netral. Dibawah ini disajikan beberapa pengelompokan karaketristik lahan yang sering digunakan untuk pekerjaan evaluasi lahan :a. Pengelompokan tekstur tanah
Halus : liat berpasir, liat, liat berdebuAgak halus : lempung berliat, lempung liat berpasir, lempung liat berdebu.Sedang : lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung berdebu, debuAgak kasar : lempung berpasir kasar, lempung berpasir, lempung berpasir halusKasar : pasir, pasir berlempungb. Drainase Cepat : tanah mempunyai nilai konduktifitas hidrolik tinggi sampai sangat tinggi dengan daya menahan air rendah atau berlereng terjal dan tekstur kasar.Agak cepat : tanah mempunyai nilai konduktivitas hidrolik yang tinggi dan daya menahan air rendah, atau belerang agak terjal dan tekstur kasarBaik : tanah mempunyai nilai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air sedang, lembab, tapi tidak cukup basah, dekat permukaan atau lereng agak landai dengan tekstur kasar – sedang, tanpa becek tanah atau karatan besi / mangan, serta warna glai sampai kedalaman 100 cmAgak Baik : tanah mempunyai nilai konduktifitas yang sedang sampai agak rendah dan daya menahan air rendah, tanah basah dekat permukaan, atau berlereng agak landai dan bertekstur sedang, atau tanah berwarna homogen tanpa bercak tanah (besi / mangan) dan tanpa warna glei sampai kedalaman > 50 cmAgak : tanah mempunyai nilai konduktifitas hydrolik agak rendah dan daya menahan air agak tinggi, atau tanah basah sampai permukaan, atau agak datar dengan tekstur agak halus, tanah berwarna homogen tanpa bercak (besi / mangan) atau glei sampai kedalaman > 25 cmTerhambat : tanah mempunyai nilai konduktifitas hidrolik rendah dan daya menahan air tinggi, atau tanah datar dengan tekstur halus, atau tanah berwarna gley, dan bercak karatan (besi / mangan) sedikit pada lapisan bawah sampai permukaan.Sangat Terhambat : tanah dengan nilai konduktifitas hidrolik sangat rendah dan daya menahan air sangat tinggi, atau tanah datar / cekung dengan tekstur sangat halus, atau tanah berwarna gley permanen sampai permukaan tanah.c. Bahaya Erosi
Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan kondisi lapang, yakni dengan memperhatikan adanya erosi lembar, alur, atau parit. Cara lain adalah memperhatikan permukaan tanah yang hilang rata – rata pertahun. Tingkat bahaya erosi tersebut nampak pada tabel berikut ini :
Tingkat Bahaya Erosi Jumlah tanah permukaan yang hilang (cm / tahun) Sangat ringan < 0.15 Ringan 0.15 – 0.9 Sedang 0.9 – 1.8 Berat 1.8 – 4.8 Sangat berat > 4.8
d. Alkalinitas
Untuk menghitung nilai Alkalinitas dapat digunakan rumus dibawah ini: ESP = Na dapat ditukar x 100
KTKe. Estimasi suhu udara
Pendugaan suhu dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Braak (1972). Berdasarkan hasil penelitiannya, di Indonesia suhu dataran rendah (pantai) berkisar antara 25 – 27 °C, dengan mengetahui tinggi tempat suatu lokasi dapat diduga besarnya suhu rata – ratanya. Rumus Braak yang biasanya dipakai adalah :26,3 °C – (0,01 x elevasi dalam meter x 0,6 °C)
Selanjutnyaberdasarkan penelitian Braak tersebut suhu tanah pada kedalaman 50 cm di Indonesia lebih tinggi, yaitu berkisar antara 3 – 4,5 °C, sehingga untuk menduga suhu tanah pada kedalaman 50 cm tersebut, yaitu rerata suhu udara ditambah sekitar 3,5 °C. Tetapi menurut Nambeke et al. (1986) suhu tanah lebih tinggi 2,5 °C dari suhu udara. Hasil pendugaan suhu dan ditambah perbedaan suhu uadara dan suhu tanah tersebut digunakan untuk memntukan rejim suh tanah seperti yang ditetapkan dalam taksonomi tanah (Soil Survey Staff, 1999, 1998) f. Kriteria Penilaian Banjir / Genangan
Banjir ditetapkan sebagai kombinasi pengaruh dari kedalaman banjir (X) dan lamanya banjir (Y). Kedua data tersebut dapat di[eroleh melalui wawancara dengan penduduk setempat di lapangan:Kedalaman banjir (X) : 1. 25 cm 2. 25 – 50 cm 3. 50 – 150 cm 4. > 150 cmLamanya banjir (Y) : 1. 1 bulan 2. 1 – 3 bulan 3. 3 – 6 bulan 4. . 6 bulang. Kriteria tingkat kesuburan tanah
3. Kesesuaian Lahan Aktual dan Faktual
Kesesuaian lahan aktual adalah kesesuaian lahan untuk tipe penggunaan tertentu tanpa harus mempertimbangkan masukan (input) yang dibutuhkan, sedangkan kesesuaian lahan potensial adalah kesuaian lahan untuk tipe penggunaan tertentu setelah mempertimbangkan masukan (input) yang dibutuhkan. Sebagai contoh salah satu satuan peta lahan memiliki subkelas kesesuaian lahan S3 (lahan kurang sesuai dengan faktor pembatas kemasaman tanah). Kelas kesesuaian lahan ini dinaikkan menjadi S2 atau S1 dengan menghilangkan faktor pembatas nr,3 yakni dengan menambahkan kapur. Untuk menetapkan kelas potensial tidak semudah seperti contoh karena harus mempertimbangkan biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Biaya tambahan (input) harus lebih rendah dibandingkan dengan keuntungan akibat input yang diberikan. Sebagai contoh kalau lahan tersebut berada di Irian Jaya yang tidak memiliki gunung berkapur, maka pengapuran tidak dapat dilakukan terkecuali dengan mendatangkan kapur dari Jawa sehingga biayanya menjadi mahal, apabila kondisinya seperti ini maka tidak dapat kelas kesessuaian lahan aktual tidak dapat dinaikkan menjadi lebih tinggi (kelas kesesuaian lahan aktual = kelas kesesuaian lahan potensial).
4. Tipe Penggunaan Lahan Berganda dan Majemuk
Tipe penggunaan lahan berganda adalah dalam satuan peta lahan yang sama terdapat lebih dari satu tipe penggunaan lahan yang membutuhkan persyaratan lahan berbeda dalam kurun waktu yang bersamaan , sebagai contoh agrowisata, dimana dalam hamparan lahan yang memiliki karakteristik lahan sama ada beberapa tipe penggunaan lahan yang berbeda (hotel, kebun, taman margasatwa, kolam renang, dan lain – lain) dan setiap tipe penggunaan lahan tersebut membutuhkan persyaratan lahan yang berbeda. Sedang tipe penggunaan lahan majemuk adalah dalam satu hamparan lahan yang memiliki karaketristik lahan yang sama terdapat lebih dari satu tipe penggunaan lahan yang membutuhkan persyaratan lahan yang hampir sama sebagai contoh tumpang sari antara tanaman padi dan jagung, dan lain-lain.
Komentar
Posting Komentar