Budidaya Lele dan Dasar-dasarnya

BUDI DAYA IKAN LELE
Pengertian dan Dasar-dasarnya

Catatan penulis : tulisan dibawah ini penulis ringkas dari buku “Budidaya Lele Super Lengkap” karangan Farikhah, S.Pi, M.Si dan Badrul huda, S.Pi, cetakan tahun 2015 oleh Familia. Ringkasan ini belum mewakili isi dari keseluruhan buku dikarenakan menyesuaikan kebutuhan penulis untuk belajar serta berwirausaha dan kedepannya akan terus diperkayadan diperbaiki, terimakasih.  
   
Usaha pembesaran ikan lele adalah suatu usaha untuk memelihara ikan lele dengan tujuan membesarkan ukuran benih hingga mencapai ukuran konsumsi.

Benih lele dan garis besarnya ; benih lele merupakan anakan / lele berukuran kecil mulai dari panjang 2 cm hingga 12 cm bahkan ukuran 100 gram per ekor.

Ukuran benih lele dan hubungannya dengan keuntungan dan kerugian; benih lele dengan ukuran kurang dari 5 cm memiliki resiko antara lain tingkat kematian yang tinggi serta masa pemeliharaan yang panjang. Benih dengan ukuran 100 gram per ekor biasanya diperuntukan untuk usaha dengan skala target pembesaran 600 – 800 gram per ekor.

Segmentasi pasar lele; sasaran depot biasanya menyukai ukuran rata-rata 7 ekor per kilogram, sasaran penjualan pedagang kaki lima biasanya menyukai ukuran 8-9 ekor per kilogram, sasaran penjualan skala rumah tangga biasanya menyukai ukuran 14-20 ekor per kilogram.

Faktor penentu untung rugi usaha budidaya lele antara lain sebagai berikut:
Laju pertumbuhan; tergantung pada mutu genetic benih serta pola pemeliharaan
Konversi pakan ke daging; tergantung pada mutu genetic benih dan kualitas pakan
atau dapat disederhanakan menjadi semakin cepat benih tumbuh dan berkembang akan semakin baik keuntungan yang didapatkan.   

Skala usaha; minimal 1 hektar dengan pembagian kolam sebanyak 12 kolam (Okuci, 2004) atau minimal 5-8 m2 dengan kapasitas 10.000 ekor.

Studi usaha; pada pemeliharaan benih per 1000 ekor dengan ketentuan : pakan jenis pelet, biaya air Rp. 0,- dan biaya tenaga Rp. 0,- keuntungan yang diperoleh hanya sebesar Rp. 200.000. Apabila skala usaha diperbesar sampai dengan 100.000 ekor makan keuntungan dapat berlipat 100 x atau keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 20.000.000 per satu siklus.

Lokasi yang nyaman untuk lele; berlokasi dekat dengan sumber air, dekat dengan saluran pembuangan, dan bebas dari resiko banjir.

Persiapan kolam; persiapan air bersih, memiliki saluran untuk air masuk dan keluar, memkasimalkan fungsi kolam sesuai peruntukannya. Kolam dari terpal; wajib direndam dan dicuci dengan air terlebih dahulu agar bau plastiknya hilang. Kolam dari beton harus direndam terlebih dahulu kurang lebih 1 minggu, kemudian dicuci dengan detergen lalu dikeringkan, serta dicuci hamakan dengan kaporit 150 ppm. Kolam dari tanah dapat ditambahkan kapur.

Persiapan pakan; standar pakan minimal memiliki kandungan protein sebesar 34 %, kebutuhan pakan tersebut dapat dibeli atau dibuat sendiri dengan ketentuan memiliki kandungan protein yang cukup. Kualitas jenis pakan dan dampaknya pada ikan sangat tergantung dengan kandungan kadar protein dan bentuk pakan tersebut tergolong terapung atau tenggelam.

Persiapan benih; kualitas benih sangat tergantung dengan mutu genetik yang baik, cirinya adalah sebagai berikut: memiliki ukuran dan warna yang seragam, aktif dan responsif terhadap rangsangan, tidak cacat, dan tidak dalam kondisi stress.

Tahap pemeliharaan;
Pemberian pakan;
Saat benih dating tidak dianjurkan untuk langsung diberi pakan tunggu 6-12 jam (adaptasi).
Syarat pakan : mudah diperoleh, ukuran sesuai mulut, kandungan nutrisi lengkap dengan standar protein 42%, terkstur lebut dan halus. 
Pemberian pakan dapat dilakukan pada pagi (07.00-08.00 WIB), siang (13.00-14.00 WIB), dan malam (18.00-19.00 WIB).
Saat ikan kenyang hentikan pemberian pakan.
Variasi pakan dapat diberikan saat ikan berumur kurang lebih 15 cm
Pengelolaan kualitas air;
Parameter utama; suhu air, pH, dan kadar ammonia
Suhu air pada kisaran 28-30 derajat C, mampu merangsang nafsu makan ikan, kurang dari itu tidak disarankan.
Suhu air di kolam tanah lebih stabil jika dibandingkan kolam beton, kolam beton galian lebih stabil dibandingkan kolam timbunan.
Kadar ammonia dalam kolam merupakan kadar racun yang disebabkan oleh aktifitas N dalam bentuk nitrit / ammonium. 
Amonium terbentuk dari sisa feses, urine, dan perombakan sisa pakan, ciri kadar ammonium dalam kolam tinggi antara lain ikan menjadi stress.
Cara mengatasi timbunan amonium dalam kolam; kuras air bagian bawah kolam dengan outlet, penambahan pupuk fosfat, dan dapat memanfaatkan fitoplankton / tanaman air tingkat tinggi seperti eceng gondok, kangkung, dan azolla.

Pemantauan kesehatan ikan; dilakukan bersamaan dengan pemantauan kualitas air dan pemberian pakan. Penyebab ikan terkena penyakit antara lain aktivitas pathogen (hama, penyakit, dan virus) dan keracunan. Penanganan tergantung pada hasil observasi serta ditunjang oleh studi kasus di lapangan dan literatur. 
   

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGUJIAN KETAHANAN KACANG HIJAU TERHADAP PENYAKIT BERCAK DAUN (Cercospora canescens)